BREAKING NEWS

AHLUL BAIT NABI SAW: KESAKSIAN-KESAKSIAN AHLUS SUNNAH, SMS +6281809556588

Minggu, 07 Mei 2017

Pendapat Para Ulama Tentang Saif Bin Umar


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

1. Yahya bin Mu'in (wafat tahun 233 Hijrah) berkata, "Lemah hadisnya, dan tidak ada kebaikan darinya."
2. Abu Dawud (wafat tahun 275 Hijrah) berkata, "Dia bukan apa-apa. Dia pendusta."
3. Nasa'i (wafat tahun 303 Hijrah) berkata, "Dia orang yang lemah, ditinggalkan hadisnya, dan tidak dipercaya."
4. Ibnu Hatim (wafat tahun 327 Hijrah) berkata, "Ditinggalkan hadisnya."
5. Ibnu 'Uday (wafat tahun 365 Hijrah) berkata, "Suka meriwayatkan hadis-hadis mawdhu', dan dituduh zindiq." Ibnu 'Uday berkata, "Orang-orang mengatakan dia suka membuat hadis palsu."
6. Al-Hakim (wafat tahun 405 Hijrah) berkata, "Ditinggalkan hadisnya, dan dia dituduh zindiq."
7. Khatib al-Bagdadi (wafat tahun 406 Hijrah) melemahkannya.
8. Ibnu Abdul Barr (wafat tahun 463 Hijrah) menukil dari Ibnu Hibban yang berkata tentang Saif bin Umar, "Saif ditinggalkan hadisnya. Kita menyebutkan hadisnya hanya sekedar untuk mengetahui." Ibnu Abdul Barr tidak memberikan komentar apa pun terhadap hadisnya.
9. Fairuz Abadi, penulis berbagai kitab, menyebutkannya bersama yang lainnya, "Mereka itu orang-orang yang dha'if (lemah)."
10. Ibnu Hajar (wafat tahun 852 Hijrah) berkata, setelah mengkritik sebuah hadis yang di dalam sanadnya terdapat nama Saif bin Umar, "Di dalam sanadnya terdapat orang-orang yang dhaif, dan terdha’if di antara mereka adalah Saif bin Umar."
11. Shafiyyuddin (wafat tahun 923 Hijrah) berkata, "Mereka mendha’ifkannya.


Inilah pandangan para ulama selama berabad-abad tentang Saif bin Umar.

Bagaimana bisa para sejarahwan berbicara secara panjang lebar tentang riwayatnya?! Bagaimana bisa para peneliti membangun pandangan-pandangan mereka berdasarkan riwayat ini. Di samping perbedaan yang masih diperselisihkan tentang namanya. Apakah namanya Ibnu Sauda, atau Abdullah bin Saba?! Demikian juga perbe-daan tentang kemunculannya. Apakah dia muncul pada masa Usman, sebagaimana yang dikatakan oleh Thabari, atau sebagaimana yang dikatakan oleh Sa'ad bin Abdullah al-Asy'ari di dalam kitabnya al-Maqalat wa al-Firaq, "Dia muncul pada masa Ali atau sesudah kematiannya."

Dan kenapa Usman bersikap diam terhadapnya, padahal dia tidak bersikap diam sekali pun kepada sahabat-sahabat besar, seperti Abu Dzar, 'Ammar dan Ibnu Mas'ud?

Bahkan, sesungguhnya dia merupakan sebuah rangkaian kebohongan yang diciptakan atas Syi'ah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Thaha Husain, "Ibnu Saba adalah seorang tokoh yang diciptakan oleh para musuh Syi'ah untuk menghantam Syi'ah, yang sebenarnya tidak ada wujudnya di luar." Rekayasa ini diciptakan dengan tujuan untuk mencemarkan keyakinan-keyakinan Syi'ah yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunah. Seperti keyakinan tentang wasiat dan 'ishmah. Musuh-musuh mereka tidak menemukan jalan selain dengan jalan menghubung-hubungkan keyakinan-keyakinan ini dengan ajaran Yahudi, yang tokohnya adalah seorang tokoh fiktif yang bernama Abdullah bin Saba. Sehingga dengan begitu kecaman ditujukan kepada tokoh ini dan kepada orang yang mengambil ajaran darinya. Di samping di sisi lain mereka menampilkan kelurusan wajah para sahabat dan membersihkan mereka dari berbagai kecaman dan celaan, dikarenakan berbagai perpecahan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka, sehingga berakhir dengan terbunuhnya Usman, dan begitu juga peristiwa perang Jamal yang memakan ribuan korban dari kalangan para sahabat. Kisah fiktif tentang Abdullah bin Saba ini tidak lain merupakan upaya untuk menutupi lembaran sejarah yang hitam ini, untuk kemudian melemparkan tanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi kepada tokoh fiktif ini, padahal para sahabat sendiri bertanggung jawab atas peristiwa-peristiwa yang terjadi. Yaitu terpecah belahnya umat kepada berbagai mazhab dan keyakinan.

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sekilas Mengenai Contoh Lain


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

Contoh Lain

Terdapat penghapusan besar-besaran secara sengaja akan keutamaan-keutamaan Ali dan Ahlul Baitnya dari kitab-kitab sejarah. Ini Ibnu Hisyam yang menukil Sirah Ibnu Ishak berkata di dalam mukaddimah kitabnya, "Di dalam kitab ini ditinggalkan sebagian yang disebutkan oleh Ibnu Ishak... dan begitu juga hal-hal yang buruk untuk dikatakan, dan beberapa hal yang tidak baik orang menyebutkannya... "

Dia mengatakan kata-kata ini sebagai pengantar untuk menyembunyikan kebenaran. Di antara hal-hal yang tidak baik orang menyebutkannya adalah ajakan Rasulullah saw kepada Abu Thalib manakala Allah SWT memerintahkannya, "Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. " Thabari telah menyebutkannya beserta sanadnya. Dia mengatakan Rasulullah saw telah bersabda, "Wahai putra-putra Abdul Muththalib! Demi Allah tidak ada seorang pun pemuda bangsa Arab yang telah membawa untuk kaumnya sesuatu yang lebih berharga dan lebih utama dari apa yang aku bawa untuk kalian. Aku datang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Dan Allah telah memerintahkan aku untuk menyeru kalian agar menerimanya. Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memberikan dukungan bagiku dalam urusan ini; dan sebagai imbalannya, ia akan menjadi saudaraku, washiku, serta menjadi khalifah (pengganti)ku di antara kalian?"

Semua yang hadir diam seribu bahasa, kecuali Ali yang termuda di antara mereka; ia berdiri dan berkata dengan lantangnya, "Aku – wahai Nabi Allah – yang akan menjadi pembantumu!" Kemudian Rasulullah saw berkata, "Inilah saudaraku, washiku dan khalifahku di antara kalian! Dengar kata-katanya, dan taatlah kepadanya!" Maka bangkitlah mereka sambil tertawa dan berkata kepada Abu Thalib, "Lihatlah betapa dia telah memerintahkan Anda agar mendengarkan kata-kata anak Anda dan taat kepadanya."[107]

Apakah riwayat ini termasuk sesuatu yang buruk untuk dikatakan?!

Jangan membuat Anda heran Thabari menyebutkan kisah ini, karena dengan segera dia mencabut kembali perkataannya itu. Dia meriwayatkan kisah ini di dalam kitab tafsirnya dengan disertai penyimpangan. Dia mengatakan, "Rasulullah saw bersabda, 'Maka siapakah di antara kalian yang bersedia memberikan dukungan bagiku; dan sebagai imbalannya, ia akan menjadi saudaraku... dan seterusnya dan seterusnya.'" Kemudian Thabari melanjutkan, "Kemudian Rasulullah saw berkata, 'Sesungguhnya inilah saudaraku... dan seterusnya dan seterusnya, maka dengarkan kata-katanya, dan taatlah kepadanya.'[108]

Apa yang dimaksud dengan kata-kata "dan seterusnya dan seterusnya" yang dikatakan oleh Thabari?!

Adapun Ibnu Katsir, manakala menyebutkan kisah ini di dalam kitab tarikhnya, merasa kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh Thabari di dalam kitab tafsirnya, maka dengan tanpa rasa malu dan dengan tanpa berpegang kepada kejujuran intelektual dia pun mengikuti langkah yang telah dilakukan oleh Thabari. Dia ikut mengatakan, "dan seterusnya dan seterusnya."[109]

Perhatikanlah peristiwa ini, yang berbicara tentang salah satu keutamaan Amirul Mukminin dan lebih berhaknya dia atas kekhalifahan; dan juga perhatikanlah apa yang telah dilakukan oleh para sejarahwan terhadap peristiwa ini. Ibnu Hisyam tidak bisa menggunakan siasat terhadapnya, dia menghapuskannya sama sekali. Adapun Thabari, dan kemudian diikuti oleh Ibnu Katsir, mereka berdua menyelewengkan dan mengaburkan maknanya. Maka perhatikanlah!

Berikut ini kami ketengahkan contoh lain dari penyelewengan yang dilakukan oleh para sejarahwan terhadap kebenaran. Mereka tidak hanya menyembunyikan keutamaan-keutmaan Ali dan Ahlul Baitnya, melainkan sebagai lawannya mereka juga menyembunyikan segala sesuatu yang mencemarkan nama sahabat, terlebih lagi para khalifah. Berikut ini sebuah kisah yang merupakan gabungan di antara dua sisi, yaitu sisi menyembunyikan keutamaan-keutamaan Ali dan sisi menyembunyikan keburukan-keburukan para khalifah.

Para sejarahwan, terutama Thabari menyembunyikan surat menyurat yang terjadi di antara Muhammad bin Abu Bakar —salah seorang pengikut Ali— dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Karena di dalam surat-surat tersebut terdapat pembuktian akan kedudukan Imam Ali sebagai washi Rasulullah saw, dan sekaligus menyingkap keadaan para khalifah yang sebenarnya. Setelah menyebutkan sanad kedua surat tersebut Thabari memberikan alasan bahwa di dalam kedua surat tersebut terdapat sesuatu yang masyarakat umum tidak tahan untuk mendengarnya. Kemudian setelah itu datang Ibnu Atsir, dan dia pun melakukan sebagaiman yang telah dilakukan oleh Thabari. Selanjut-nya, Ibnu Katsir mengikuti jalan yang telah mereka tempuh. Dia hanya memberi isyarat kepada surat Muhammad bin Abu Bakar, namun sama sekali membuang surat tersebut dari penulisan. Ibnu Katsir mengatakan, "Di dalamnya terdapat kata-kata kasar." Apa yang telah dilakukan oleh para sejarahwan yang tiga itu adalah seburuk-buruknya bentuk penyembunyian kebenaran. Ini semua membuktikan dengan amat jelas akan ketidak-objektifan mereka.

Apa yang mereka maksud dengan perkataan "masyarakat umum tidak tahan untuk mendengarkan isi keduanya"?

Apakah karena masyarakat umum tidak akan meyakini para khalifah lagi setelah mendengar isi kedua surat tersebut?

Berikut ini surat Muhammad bin Abu Bakar yang ditujukan kepada Muawiyah bin Abu Sufyan, sebagaimana yang dinukil di dalam kitab Muruj adz-Dzahab, karya al-Mas'udi:

Dari Muhammad bin Abu Bakar kepada si tersesat Muawiyah bin Shakhr.

Salam kepada penyerah diri dan yang taat kepada Allah!

Amma ba'du, sesungguhnya Allah SWT, dengan keagungan dan kekuasaan-Nya, menciptakan makhluk-Nya tanpa main-main. Tiada celah kelemahan dalam kekuasaan-Nya. Tiada berhajat Dia terhadap hamba-Nya. ia menciptakan mereka untuk mengabdi kepada-Nya.

Dia menjadikan orang yang tersesat atau orang yang lurus, orang yang malang dan orang yang beruntung.

Kemudian, dari antara mereka, Dia Yang Mahatahu memilih dan mengkhususkan Muhammad saw dengan pengetahuan-Nya. Dia jugalah yang memilih Muhammad saw berdasarkan ilmu-Nya sendiri untuk menyampaikan risalah-Nya dan mengemban wahyu-Nya. Dia mengutusnya sebagai rasul dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Dan orang pertama yang menjawab dan mewakilinya, mentaatinya, mengimaninya, membenarkannya, menyerahkan diri kepada Allah dan menerima Islam sebagai agamanya —adalah saudaranya dan misannya Ali bin Abi Thalib— yang membenarkan yang ghaib. Ali mengutamakannya dari semua kesayangannya, menjaganya pada setiap ketakutan, membantunya dengan dirinya sendiri pada saat-saat mengerikan, memerangi perangnya, berdamai demi perdamaiannya, melindungi Rasulullah dengan jiwa raganya siang maupun malam, menemaninya pada saat-saat yang menggetarkan, kelaparan serta dihinakan. Jelas tiada yang setara dengannya dalam berjihad, tiada yang dapat menandinginya di antara para pengikut dan tiada yang mendekatinya dalam amal perbuatannya.

Dan saya heran melihat engkau hendak menandinginya! Engkau adalah engkau! Sejak awal Ali unggul dalam setiap kebajikan, paling tulus dalam niat, keturunannya paling bagus, istrinya adalah wanita utama, dan pamannya (Ja'far) syahid di perang Mu'tah. Dan seorang pamannya lagi (Hamzah) adalah penghulu para syuhada perang Uhud, ayahnya adalah penyokong Rasulullah saw dan istrinya

Dan engkau adalah orang yang terlaknat, anak orang terkutuk. Tiada hentinya engkau dan ayahmu menghalangi jalan Rasulullah saw. Kamu berdua berjihad untuk memadamkan nur Ilahi, dan kamu berdua melakukannya dengan menghasud dan menghimpun manusia, menggunakan kekayaan, dan mempertengkarkan berbagai suku. Dalam keadaan demikian ayahmu mati. Dan engkau melanjutkan perbuatannya seperti itu pula.

Dan saksi-saksi perbuatan engkau adalah orang-orang yang meminta-minta perlindungan engkau, yaitu dari kelompok musuh Rasulullah yang memberontak, kelompok pemimpin-pemimpin yang munafik dan pemecah belah dalam melawan Rasulullah saw.

Sebaliknya sebagai saksi bagi Ali dengan keutamaannya yang terang dan keterdahuluannya (dalam Islam) adalah penolong-penolongnya yang keutamaan mereka telah disebutkan di dalam Al-Qur'an, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Dan mereka itu merupakan pasukan yang berada di sekitarnya dengan pedang-pedang mereka dan siap menumpahkan darah mereka untuknya. Mereka melihat keutamaan pada dirinya yang patut ditaati, dan malapetaka bila mengingkarinya.

Maka mengapa, hai ahli neraka, engkau menyamakan dirimu dengan Ali, sedang dia adalah pewaris dan pelaksana wasiat Rasulullah saw, ayah anak-anak Rasulullah saw, pengikut pertama, dan yang terakhir menyaksikan Rasulullah saw, teman berbincang, penyimpan rahasia dan serikat Rasulullah saw dalam urusannya. Rasulullah saw memberitahukan pekerjaan beliau kepadanya, sedang engkau adalah musuh dan anak dari musuh beliau.

Tiada peduli keuntungan apa pun yang engkau peroleh dari kefasikanmu di dunia ini dan bahkan Ibnu al-'Ash menghanyutkan engkau dalam kesesatanmu, akan tampak bahwa waktumu berakhir sudah dan kelicikanmu tidak akan ampuh lagi. Maka akan menjadi jelas bagimu siapa yang akan memiliki masa depan yang mulia. Engkau tidak mempunyai harapan akan pertolongan Allah, yang tidak engkau pikirkan.

Kepada-Nya engkau berbuat licik. Allah menunggu untuk menghadangmu, tetapi kesombonganmu membuat engkau jauh dari Dia.

Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk.[110]

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Jawaban Surat Muawiyah Kepada Muhammad Bin Abu Bakar


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

Dari Muawiyah bin Abu Sufyan.

Kepada pencerca ayahnya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar.

Salam kepada yang taat kepada Allah.

Telah sampai kepadaku suratmu, yang menyebut Allah Yang Mahakuasa dan Nabi pilihan-Nya, dengan kata-kata yang engkau rangkaiakan. Pandanganmu lemah. Engkau mencerca ayahmu. Engkau menyebut hak Ibnu Abi Thalib dan keterdahuluan serta kekerabatannya dengan Nabi Allah saw, dan bantuan serta pertolongannya kepada Nabi pada setiap keadaan genting.

Engkau juga berhujjah dengan keutamaan orang lain dan bukan dengan keutamaanmu. Aneh, engkau malah mengalihkan keutamaanmu kepada orang lain.

Di zaman Nabi saw, kami dan ayahmu telah melihat dan tidak memungkiri hak Ibnu Abi Thalib. Keutamaannya jauh di atas kami.

Dan Allah SWT memilih dan mengutamakan Nabi sesuai janji-Nya. Dan melalui Nabi Dia menampakkan dakwah-Nya dan men-jelaskan hujjah-Nya. Kemudian Allah mengambil Nabi saw ke sisi-Nya.

Ayahmu dan Faruq-nya (Umar) adalah orang-orang pertama yang merampas haknya. Hal ini diketahui umum.

Kemudian mereka mengajak Ali membaiat Abu Bakar, tetapi Ali menunda dan memperlambatnya. Mereka marah sekali dan bertindak kasar. Hasrat mereka bertambah besar. Akhirnya Ali membaiat Abu Bakar dan berdamai dengan mereka berdua.

Mereka berdua tidak mengajak Ali dalam pemerintahan mereka. Tidak juga mereka menyampaikan kepadanya rahasia mereka, sampai mereka berdua meninggal dan berakhirlah kekuasaan mereka.

Kemudian bangkitlah orang ketiga, yaitu Usman yang menuruti tuntunan mereka. Engkau dan temanmu berbicara tentang kerusakan-kerusakan yang dilakukan Usman agar orang-orang yang berdosa di propinsi-propinsi mengembangkan maksud-maksud buruk terhadap-nya dan engkau bangkit melawannya. Engkau menunjukkan permu-suhanmu kepadanya untuk mencapai keinginan-keinginamu sendiri.

Hai putra Abu Bakar, berhati-hatilah atas apa yang engkau lakukan. Jangan engkau menempatkan dirimu melebihi apa yang dapat engkau urusi. Engkau tidak akan dapat menemukan seseorang yang mempunyai kesabaran yang lebih besar dari gunung, yang tidak pernah menyerah kepada suatu peristiwa. Tak ada yang dapat menyamainya.

Ayahmu bekerja sama dengan dia dan mengukuhkan kekuasaannya. Bila kaum katakkan bahwa tindakanmu benar, (maka ketahuilah) ayahmulah yang mengambil alih kekuasaan ini, dan kami menjadi sekutunya. Apabila ayahmu tidak melakukan hal ini, maka kami tidak akan sampai menentang anak Abu Thalib dan kami akan sudah menyerah kepadanya.

Tetapi kami melihat bahwa ayahmu memperlakukan dia seperti ini dihadapan kami, dan kami pun mengikutinya; maka cacat apa pun yang akan kamu dapatkan, maka arahkanlah itu kepada ayahmu sendiri, atau berhentilah dari turut campur.

Salam bagi orang yang kembali.[111]

Anda dapat mengetahui rahasia kenapa Thabari, Ibnu Atsir dan Ibnu Katsir tidak bersedia menukil surat-surat di atas. Karena surat-surat tersebut menyingkap perselisihan yang terjadi dikalangan kaum Muslimin dalam urusan kekhalifahan, yang merupakan hak Ali. Muawiyah mengakui ini, namun dia beralasan bahwa kekhalifahannya hanyalah kepanjangan kekhalifahan Abu Bakar. Kemudian Muawiyah mengecam anak Abu Bakar (yaitu Muhammad bin Abu Bakar) dengan hal ini, sehingga menjadikannya terdiam tidak dapat bicara dalam urusan ini.

Celaka engkau, hai Muawiyah, meskipun Muhammad bin Abu Bakar tidak berdiam diri dan tidak menutupi urusan Anda, namun Thabari, Ibnu Atsir dan Ibnu Katsir bersikap diam terhadap urusan Anda.

Banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan pemalsuan dan penyelewengan yang dilakukan oleh para sejarahwan terhadap kebenaran. Kita tidak mungkin menyebutkannya satu persatu dalam kesempatan ini. Seseorang yang meneliti sejarah akn mendapati hal ini dengan jelas. Namun yang mengherankan, para sejarahwan tidak menutupi berbagai penyelewengan yang telah mereka lakukan. Anda dapat menemukan isyarat-isyarat yang jelas akan apa yang telah mereka lakukan. Sebagai contoh, berkenaan dengan peristiwa peng-hinaan yang dilakukan oleh Usman bin Affan terhadap Abu Dzar, Thabari berkata, "Telah disebutkan banyak hal yang menjadi sebab pemulangan Abu Dzar dari Syam, namun saya enggan menyebutkan kebanyakannya.

Dengan demikian kita dapat menyingkap dengan jelas penyimpangan yang dilakukan oleh Thabari terhadap kebenaran.

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sekilas Kelompok Hadis - hadis Pada Masa Muawiyah


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

KELOMPOK MUHADDIS

Ketika Anda melihat berbagai persekongkolan yang telah dilakukan terhadap hadis, dan penggantian hakikat-hakikatnya, niscaya Anda akan merasa pentingnya pandangan Syi'ah. Yaitu pandangan yang mengatakan, mau tidak mau harus ada seorang pemimpin yang maksum yang menjaga syariat Allah dan mengokohkan pilar-pilarnya. Jika dia tidak maksum dan tidak terbebas dari dosa maka dia akan memanfaatkan agama untuk melayani tujuan dan kepentingan-kepentingan politiknya, dan memutar-balikan hadis untuk kepentingannya. Ini pun jika penulisan dan penyebaran hadis tidak dilarang dan diperangi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh ketiga orang khalifah —yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman— yang mana mereka telah melarang periwayatan hadis, dan bahkan membakar hadis-hadis yang dimiliki kaum Muslimin, serta menahan para sahabat untuk tetap berada di kota Madinah, sehingga mereka tidak menyebarkan hadis di tempat lain. Imam Ali berkata tentang hal itu, "Para penguasa sebelumku telah melakukan perbuatan yang menentang Rasulullah saw. Mereka secara sengaja menentangnya, melanggar janjinya dan merubah sunahnya."

Saya tidak akan membahas periode ini di dalam pasal ini. Saya akan mencukupkan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan sebelumnya. Melainkan di sini saya akan membahas masa pembukuan hadis yang di kalangan Ahlus Sunnah dianggap sebagai masa keemasan hadis, dengan disertai isyarat-isyarat yang menunjukkan apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah di dalam membuat hadis-hadis palsu dan menyembunyikan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.


Hadis Pada Masa Muawiyah

Kita dapat menelusuri periode Muawiyah seperti yang telah dinukil oleh al-Mada'ini di dalam kitab al-Ahdats. Al-Mada'ini berkata, "Muawiyah menulis satu naskah dan mengirimkannya kepada para gubernurnya sesudah "Tahun Jamaah"[112], untuk memakzulkan siapa saja yang meriwayatkan sesuatu tentang keutamaan Abu Turab —yaitu imam Ali as— dan Ahlul Baitnya. Maka berdirilah para khatib diseluruh pelosok desa dan diseluruh mimbar melaknat Ali dan memakzulkannya, serta mencaci maki dia dan keluarganya. Masyarakat yang paling keras tertimpa bencana pada saat itu adalah para penduduk kota Kufah, disebabkan banyaknya Syi'ah Ali di kota tersebut. Muawiyah menempatkan Ziyad bin Sumayyah atas mereka, dan juga menyerahkan kota Basrah kepadanya. Ziyad mencari dan menangkapi orang-orang Syi'ah, karena dia mengenal mereka, disebabkan dia pernah menjadi bagian dari mereka pada masa Imam Ali. Ziyad membunuhi mereka di mana saja ditemukan. Dia memotong tangan dan kaki mereka, dan mencungkil mata mereka serta menyalib mereka di batang-batang pohon kurma. Dia mengusir mereka dari bumi Irak, sehingga tidak tersisa yang dikenal dari mereka.

Muawiyah menulis surat kepada para gubernurnya di seluruh negeri, supaya mereka tidak memperkenankan kesaksian seorang pun dari pengikut Ali dan Ahlul Baitnya. Serta Muawiyah menulis kepada mereka supaya memperhatikan para pengikut dan pecinta Usman, dan orang-orang yang meriwayatkan keutamaan-keutamaannya. Muawiyah memerintahkan kepada para anteknya untuk mendatangi majlis-majlisnya dan memuliakan mereka. Muawiyah berkata kepada antek-anteknya, ‘Tulislah segala sesuatu yang diriwayatkan oleh salah seorang dari mereka, dan juga tulislah nama orang tersebut beserta nama ayahnya dan nama keluarganya.' Maka orang-orang pun berlomba-lomba menulis dan memperbanyak keutamaan-keutamaan Usman, disebabkan berbagai hadiah yang diberikan Muawiyah kepada mereka."

Al-Mada'ini melanjutkan, "Kemudian Muawiyah menulis surat kepada para gubernurnya, 'Sesungguhnya hadis tentang Usman telah begitu banyak dan telah begitu tersebar di seluruh pelosok negeri. Oleh karena itu, manakala suratku ini sampai kepadamu maka serulah manusia untuk meriwayatkan keutamaan-keutamaan para sahabat dan keutamaan-keutamaan dua khalifah yang pertama. Dan jangan biarkan ada seorang pun dari kaum Muslimin yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab, karena yang demikian itu berarti menentang sahabat. Dan lumpuhkan hujjah dan argumentasi Abu Turab serta Syi'ahnya, dan kuatkan pujian-pujian akan keutamaan Usman."

Al-Mada'ini melanjutkan, "Kemudian Muawiyah menulis sepucuk surat kepada para gubernurnya di seluruh pelosok negeri, "Perhatikanlah, siapa saja yang terbukti mencintai Ali dan Ahlul Baitnya, maka hapuslah dia dari diwan, dan putuslah rezeki dan pemberian untuknya.' Muawiyah menambahkan, 'Siapa saja yang kamu duga mengikuti mereka maka timpakanlah bencana kepadanya, dan han-curkanlah rumahnya.'"[113]

Tampak jelas bagi Anda begitu kerasnya persekongkolan yang dilakukan untuk menyelewengkan dan memalsukan kebenaran, hingga sampai tarap mereka menghalalkan berbohong atas nama Rasulullah saw. Semua ini disebabkan rasa pemusuhan yang begitu besar yang dimiliki Muawayiyah terhadap Ali dan para Syi'ahnya. Oleh karena itu, Muawiyah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi Ali dan Syi'ahnya. Adapun langkah pertama yang dilakukan oleh Muawiyah ialah dengan melucuti Imam Ali as dari segala keutamaan, dan tidak hanya cukup sampai di situ, melainkan dia juga melaknatnya di atas mimbar selama delapan tahun. Adapun langkah yang kedua ialah dengan membangun pagar yang indah yang mengelilingi sekelompok sahabat, sehingga mereka menjadi simbol dan panutan, sebagai ganti dari Imam Ali as. Berbagai ancaman dan bujukan Muawiyah telah menjadikan sekelompok orang munafik berkhidmat kepadanya dengan cara membuat hadis-hadis palsu, dengan menyebut diri mereka sebagai sahabat Rasulullah saw.

Abu Ja'far al-Iskafi berkata, "Muawiyah memerintahkan sekelompok orang dari para sahabat dan tabi'in untuk membuat riwayat-riwayat yang menjelekkan dan memakzulkan Ali. Muawiyah mengiming-imingi mereka dengan hadiah dan pemberian yang mereka sukai. Maka mereka pun melakukan apa yang diinginkannya. Di antara para sahabat yang demikian ialah Abu Hurairah, 'Amr bin 'Ash, Mughirah bin Syu'bah, sementara di antara para tabi'in ialah 'Urwah bin Zubar..."[114]

Demikianlah, mereka telah menjual akhirat mereka dengan dunia Muawiyah. Inilah Abu Hurairah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-A'masy, "Ketika Abu Hurairah datang ke Irak bersama Muawiyah pada "Tahun Jamaah", dia datang ke mesjid Kufah. Tatkala dia melihat banyaknya manusia yang menyambut kedatangannya, dia berlutut di atas kedua lututnya sambil memukul bagian botak kepalanya berkali-kali sambil berkata, 'Wahai penduduk Irak, apakah kamu mengira saya berdusta atas Rasulullah saw, dan membakar diri saya dengan api neraka? Demi Allah, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Sesungguhnya tiap-tiap nabi mempunyai haram (tempat yang disucikan), dan sesungguhnya haram-ku ialah di antara 'Air dan Tsawr.[115] Barangsiapa yang ber-hadats di dalamnya, maka Allah, para malaikat dan seluruh manusia akan melaknatnya.' Dan aku bersaksi kepada Allah bahwa sesungguhnya Ali telah ber-hadats di dalamnya.' Ketika ucapan Abu Hurairah itu terdengar oleh Muawiyah, maka Muawiyah pun memberinya hadiah, menghormatinya dan mengangkatnya sebagai penguasa Madinah.[116]

Berikut ini adalah Samurah bin Jundub, contoh lain dari antek Muawiyah di dalam membuat hadis palsu. Di dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah Ibnu Abil Hadid disebutkan bahwa Muawiyah memberikan seratus ribu dirham kepada Samurah bin Jundub supaya dia mau meriwayatkan bahwa ayat ini turun pada Ali, "Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehdiupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, pada-hal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan" (QS. al-Baqarah: 204), dan ayat yang kedua turun pada Ibnu Muljam —pembunuh Ali bin Abi Thalib, "Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. al-Baqarah: 207)

Samurah bin Jundub tidak mau menerima. Muawiyah menambah pemberiannya menjadi dua ratus ribu dirham, namun Samurah bin Jundub tetap tidak mau menerima. Tetapi, tatkala Muawiyah menambahnya lagi menjadi empat ratus ribu dirham, Samurah bin Jundub menerimanya.[117]

Thabari meriwayatkan, "Ibnu Sirin ditanya, 'Apakah pernah Samurah membunuh seseorang?' Ibnu Sirin menjawab, 'Tidak terhitung orang yang telah dibunuh oleh Samurah bin Jundub. Dia mengganti Ziyad di Basrah, dan kemudian Kufah, dia telah membunuh delapan ribu orang.'" Juga diriwayatkan bahwa Samurah bin Jundub pernah membunuh sebanyak empat puluh tujuh orang hanya dalam satu pagi, yang kesemuanya adalah orang yang telah mengumpulkan Al-Qur'an.[118]

Thabari berkata, "Ziyad meninggal dunia sementara Samurah sedang memegang kendali atas Basrah. Muawiyah memperdayakannya selama berbulan-bulan, dan kemudian menurunkannya. Samurah berkata, 'Semoga Allah melaknat Muawiyah. Demi Allah, seandainya aku taat kepada Allah sebagaimana aku taat kepada Muawiyah, niscaya Dia tidak akan mengazabku selama-lamanya."'[119]

Adapun Mughirah bin Syu'bah, dia terang-terangan mengakui berbagai tekanan yang diberikan oleh Muawiyah kepada dirinya. Thabari meriwayatkan tentang Mughirah bin Syu'bah, "Mughirah berkata kepada Sha'sha'ah bin Shuhan al-'Abdi —ketika itu Mughirah tengah menjadi penguasa Kufah yang diangkat oleh Muawiyah— 'Jangan sampai engkau mencela Usman di hadapan siapa pun; dan begitu juga jangan sampai engkau menyebut sebuah keutamaan Ali secara terang-terangan, karena tidak ada satu pun keutamaan Ali yang engkau sebutkan yang tidak aku ketahui. Bahkan aku lebih tahu dari kamu tentang itu, namun sultan ini —yang dia maksud adalah Muawiyah— telah memerintahkan kepada kami untuk menampakkan kekurangan-kekurangannya —yaitu Ali— ke hadapan manusia. Kami banyak meninggalkan apa yang telah diperintahkan kepada kami, namun kami terpaksa menyebutkan sesuatu yang kami tidak menemukan jalan untuk lepas darinya, untuk membela diri kami dari mereka. Jika engkau ingin jika menyebutkan keutamaannya (Ali) maka sebutkanlah di tengah-tengah sahabatmu, dan di dalam rumah-mu secara rahasia. Adapun menyebutkannya secara terang-terangan di mesjid adalah sesuatu yang tidak bisa diterima dan dimaafkan oleh khalifah...’"[120]

Begitulah sekelompok para sahabat dan tabi'in memenuhi permintaan Muawiyah. Barangsiapa yang menolak maka dia dibunuh. Seperti Syahid Hujur bin 'Adi, Maitsam at-Tammar dan yang lainnya.

Oleh karena itu, pada periode tersebut muncul beribu-ribu hadis palsu yang merangkai keutamaan-keutamaan dan kepahlawanan para sahabat, terutama para khalifah yang tiga, yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman. Kemudian hadis-hadis palsu tersebut dinukil generasi demi generasi, hingga kemudian dibukukan di dalam kitab-kitab referensi yang dijadikan pegangan.

Berikut ini beberapa contoh dari hadis palsu, dan barangsiapa yang hendak mengetahui lebih luas, maka silahkan dia merujuk kepada ensiklopedia al-Ghadir, karya Allamah al-Amini, jilid 7, 8 dan 9:

1. Matahari Bertawassul Kepada Abu Bakar

Rasulullah saw bersabda, "Ditampakkan kepadaku segala sesuatu pada malam mi’raj, bahkan hingga matahari. Aku mengucapkan salam kepadanya, dan menanyakan tentang sebab kenapa terjadi gerhana atasnya. Allah SWT menjadikannya bisa berbicara, lalu dia berkata, 'Allah SWT menjadikan aku berada di atas roda yang bergerak ke mana dia suka. Kemudian aku melihat kepada diriku dengan perasaan bangga, maka roda itu pun menurunkan aku sehingga aku jatuh ke laut. Lalu aku melihat ada dua orang, di mana yang satu mengatakan, 'Esa, esa', sedangkan yang satunya lagi mengatakan, 'Benar, benar'. Kemudian aku pun bertawassul kepada keduanya, maka Allah SWT membebaskan aku dari gerhana. Lalu aku bertanya, 'Wahai Tuhanku, siapakah mereka berdua?' Allah SWT menjawab, 'Yang mengatakan 'esa, esa' adalah kekasihku Muhammad saw, sedangkan yang mengatakan 'benar, benar' adalah Abu Bakar ash-Shiddiq ra."[121]


2. Abu Bakar Berada Di Qaba Qawsain

Telah sampai riwayat kepada kita bahwa tatkala Rasulullah saw berada pada jarak dua ujung busur anak panah atau lebih dekat, rasa takut menyerang dirinya, lalu dia mendengar suara Abu Bakar ra di hadirat Allah SWT, maka hati Rasulullah saw pun menjadi tenang dengan mendengar suara sahabatnya.[122]


3. Abu Bakar, Dan Alif Al-Qur'an

Ayat Al-Qur'an yang turun pada Abu Bakar banyak sekali. Cukup bagi kita cukup alif Al-Qur'an, yaitu "alif lam mim, dzalikal kitabu". Alif adalah Abu Bakar, Lam adalah Allah, dan Mim adalah Muhammad.[123]

Mereka tidak membiarkan satu pun keutamaan yang dimiliki Rasulullah saw kecuali mereka juga menjadikan Abu Bakar sama-sama memilikinya.

Adapun berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Umar maka tidak diragukan. Kita sebutkan salah satunya yang mengatakan Umar mempunyai kekuasaan takwini. Ar-Razi telah berkata di dalam kitab tafsirnya, "Terjadi gempa bumi di kota Madinah. Lalu Umar memukulkan mutiara ke bumi sambil berkata, 'Diamlah, dengan izin Allah.' Maka bumi pun diam, dan sejak itu tidak pernah terjadi lagi gempa di kota Madinah."

Juga disebutkan, telah terjadi kebakaran di sebagian pinggiran kota Madinah, maka Umar menulis di atas sehelai kain, 'Wahai api, diamlah, dengan izin Allah', lalu dia melemparkannya ke dalam api, maka seketika itu pun api menjadi padam.

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Para Perawi Hadis Dan Pemalsuan Kebenaran


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

Terdapat banyak cara yang dilakukan oleh para penulis hadis untuk memalsukan dan menyelewengkan kebenaran. Keta'assuban tampak jelas terlihat di dalam kitab-kitab mereka. Tatkala terlihat oleh mereka hadis-hadis yang berbicara tentang keutamaan Ali, atau menyingkap kekurangan para khalifah dan sahabat, dengan segera tangan mereka merubah hakikatnya. Berikut ini beberapa contoh dari cara-cara tersebut, hingga peranan yang amat berbahaya yang dilakukan oleh para muhaddis di dalam memalsukan kebenaran.


1. Contoh Pertama:

Manakala Muawiyah hendak mengambil baiat untuk anaknya Yazid, Abdurrahman bin Abu Bakar termasuk salah seorang yang paling keras menentang pembaiatan Yazid. Marwan berpidato di mesjid Rasulullah saw, yang ketika itu dia berkedudukan sebagai gubernur Hijaz yang diangkat oleh Muawiyah. Marwan berkata, "Amirul Mukminin menginginkan keutamaan Anda semua. Dia telah menunjuk anaknya Yazid untuk menjadi khalifah sepeninggalnya." Mendengar itu Abdurrahman bin Abu Bakar berdiri dan berkata, "Demi Allah, engkau telah berdusta, ya Marwan. Dan juga engkau telah berdusta, ya Muawiyah. Keutamaan apa yang engkau inginkan bagi umat Muhammad. Engkau tidak lain ingin menjadikannya menjadi kerajaan, di mana setiap seorang raja mati maka diganti dengan raja yang lain." Marwan berkata, "Inilah orang yang Allah SWT telah turunkan padanya, dan orang yang telah berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cis, bagi kamu keduanya.'" Aisyah mendengar perkataan Marwan dari balik tabir. Dia berdiri dari balik tabir dan kemudian berkata, "Hai Marwan, hai Marwan." Maka orang-orang pun diam, dan Marwan menghadapkan wajahnya. Lalu Aisyah berkata, "Engkau katakan kepada Abdurrahman bahwa ayat Al-Qur'an ini turun kepadanya. Engkau dusta. Demi Allah, ayat ini bukan turun padanya, melainkan pada Fulan bin Fulan, namun dia adalah kelompok orang yang dilaknat oleh Allah SWT." Pada riawayat lain disebutkan bahwa Aisyah berkata, "Demi Allah, bukan dia yang dimaksud dalam ayat ini. Akan tetapi Rasulullah saw telah melaknat Bapak Marwan pada saat Marwan masih berada di dalam tulang sulbinya. Maka dengan begitu Marwan termasuk kelompok orang yang dilaknat oleh Allah Azza Wajalla."[124]

Sekarang, coba lihat, bagaimana Bukhari menyelewengkan sesuatu yang memburukkan Muawiyah dan Marwan:

"Marwan berkuasa atas Hijaz. Muawiayah menggunakanya. Marwan berpidato, dan menyebut Yazid bin Muawiyah supaya orang-orang berbaiat kepadanya sepeninggal ayahnya. Kemudian Abdurrahman bin Abu Bakar mengatakan sesuatu, lalu Marwan berkata, 'Tangkap dia', maka Abdurrahman bin Abu Bakar masuk ke rumah Aisyah, sehingga mereka tidak mampu menangkapnya. Marwan ber-kata, 'Orang inilah yang Allah telah turunkan padanya ayat, 'Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cis, bagi kamu berdua.' Apakah Anda menerima alasan saya?!' Kemudian Aisyah berkata dari balik tabir, 'Allah tidak menurunkan sesuatu dari Al-Qur'an padanya, kecuali Allah menurunkan alasan saya.'"[125]

Bukhari membuang perkataan Abdurrahman dan menggantinya dengan mengatakan "Abdurrahman mengatakan sesuatu", sebagaimana juga dia mengganti perkataan Aisyah. Semua ini dilakukan Bukhari untuk menjaga nama baik Muawiyah dan Marwan. Ibnu Hajar telah menceritakan peristiwa ini secara panjang lebar di dalam kitabnya Fath al-Bari. Perhatikanlah, sampai sejauh mana kelurusan Bukhari di dalam menukil kenyataan.


2. Contoh Kedua.

Bukhari membuang fatwa Umar tentang tidak salat. Muslim meriwayatkan dari Syu'bah yang berkata, "Al-Hakam berkata kepada saya, dari Sa'id bin Abdurrahman, dari ayahnya yang berkata, "Seorang laki-laki mendatangi Umar dan berkata, 'Saya berjunub, namun saya tidak menemukan air.' Umar menjawab, 'Jangan kamu salat.'

Lalu Ammar berkata, 'Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala kamu dan saya berada di dalam pasukan. Pada saat itu kita berjunub, dan kita tidak menemukan air. Kamu pada saat itu tidak mengerjakan salat, sedangkan saya berguling-guling di atas tanah dan kemudian salat. Kemudian Rasulullah saw berkata, 'Cukup kamu memukulkan kedua telapak tanganmu ke atas tanah, kemudian meniup keduanya, dan lalu mengusapkannya ke wajahmu dan kedua punggung tanganmu.'

Umar berkata, 'Bertakwalah kepada Allah, wahai Ammar.' Ammar berkata, 'Jika kamu tidak ingin, saya tidak akan ceritakan."'[126]

Padahal hadis ini dengan jelas menunjukkan kebodohan Umar akan hukum agama yang paling sederhana dan penting, yang diketahui oleh seluruh kaum Muslimin (yaitu hukum tayammum), dan yang dengan jelas dikatakan oleh Al-Qur'an dan diajarkan oleh Rasulullah saw kepada mereka tentang tata caranya. Namun demikian, Umar memberikan fatwa untuk tidak salat. Yang pertama, ini tidak lain merupakan salah satu indikasi kebodohan Umar, dan menunjukkan bahwa Umar tidak begitu menaruh perhatian kepada salat, dan bahkan me-nunjukkan bahwa Umar tidak mengerjakan salat pada saat dia junub, sebagaimana yang dijelaskan oleh riwayat.

Saya ingat, salah seorang teman saya pernah berdiskusi dengan saya tentang ilmunya Umar. Dia berkata kepada saya, "Sesungguhnya Umar sejalan dengan Al-Qur'an sebelum Al-Qur'an turun."

Saya katakan kepadanya, "Ini hanya cerita yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan. Karena bagaimana mungkin Umar sejalan dengan Al-Qur'an sebelum Al-Qur'an diturunkan, padahal dia tidak sejalan dengan Al-Qur'an setelah Al-Qur'an turun tentang masalah tayammum dan penentuan mahar wanita. Hadis ini merupakan guncangan yang paling keras yang saya alami selama saya mengkaji tentang pribadi Umar. Karena hadis ini menyingkap secara sempurna sampai sejauh mana tingkat keilmuan dan keberagamaan Umar. Yang lebih mengherankan saya ialah sikap Umar yang tetap bersikeras dengan kebodohannya setelah diberitahukan oleh Ammar tentang hukum agama mengenai masalah itu.

Kemudian, lihatlah bagaimana Bukhari tidak sampai hati meriwayatkan fatwa Umar ini, yang tidak mungkin ada seorang pun yang memfatwakannya meski orang pasar sekali pun. Bukhari mengeluarkan di dalam kitab sahihnya dengan sanad dan redaksi yang sama, namun dengan membuang fatwanya,

"Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khattab dan berkata, 'Saya berjunub namun saya tidak menemukan air.' Lalu Ammar bin Yasir berkata kepada Umar bin Khattab, 'Apakah kamu ingat, wahai Amirul Mukminin, tatkala kamu dan saya ..."[127]


3. Contoh Ketiga:

Ibnu Hajar mengeluarkan di dalam kitabnya Fath al-Barifi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid 17, halaman 31, hadis yang berbunyi, "Seorang laki-laki bertanya kepada Umar tentang firman Allah SWT yang berbunyi, 'Dan buah-buahan serta rumput-rumputan', apakah rumput-rumputan itu?'

Umar menjawab, 'Kita dilarang untuk mendalami dan memberatkan diri.'"

Ibnu Hajar berkata, "Di dalam riwayat lain yang berasal dari Tsabit, dari Anas yang berkata bahwa Umar membaca, 'Dan buah-buahan serta abb (sejenis rerumputan).' Lalu orang bertanya, 'Apa abb itu?' Umar menjawab, 'Kita tidak diperintahkan untuk memberatkan diri', atau 'Kita tidak diperintahkan dengan yang demikian ini.'"

Kemudian, perhatikanlah bagaimana Bukhari mengerahkan segenap usahanya untuk membersihkan Umar dari segala sesuatu yang menempel padanya. Kenapa dia tidak meriwayatkan hadis yang membuktikan kebodohan Umar akan Al-Qur'an ini. Karena masalah yang ditanyakan adalah masalah yang sangat sederhana bagi orang yang mengenal Al-Qur'an dan gaya bahasanya. Argumentasi Umar tentang tidak adanya perintah memberatkan diri bukanlah pada tempatnya, karena masalah ini bukan merupakan sebuah tindakan pemberatan diri. Dan membuat-buat alasan dalam urusan ini adalah lebih buruk dari dosa. Ketika Imam Ali as ditanya dengan pertanyaan yang sama, Imam Ali as menjawab berkenaan dengan ayat yang sama, 'Dan buah-buahan serta abb (sejenis rerumputan), untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu', 'Buah-buahan adalah kesenangan untuk kita sedangkan abb adalah kesenangan untuk binatang-binatang ternak. Abb adalah sejenis rerumputan.'"

Bukhari berkata di dalam kitab sahihnya, dari Tsabit, dari Anas yang mengatakan, "Kami berada di samping Umar, lalu dia berkata, 'Kita dilarang untuk memberatkan diri.'"[128]

Hadis ini dan hadis-hadis lainnya termasuk ke dalam kelompok hadis yang tidak sejalan dengan keyakinan Bukhari. Oleh karena itu, dengan sengaja dia pun menghilangkan sebagian, mengganti atau membuang hadis secara keseluruhan. Persis, sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap hadis tsaqalain, "Kitab Allah dan 'itrah Ahlul Baitku ...", yang mana Muslim dan al-Hakim telah mengeluarkannya sesuai dengan syarat Bukhari. Demikian juga dengan hadis-hadis sahih lainnya yang Bukhari tidak mampu menjelaskan dan menyimpangkannya, maka dia pun tidak memasukkannya ke dalam kitab sahihnya. Inilah yang menjadi sebab dasar kenapa kitab Sahih Bukhari dijadikan sebagai kitab yang paling sahih setelah Kitab Allah oleh para penguasa. Saya tidak tahu ada sebab lain selain sebab ini yang dijadikan dasar pertimbangan ini.


4. Contoh Keempat:

Berikut ini saya ketengahkan kepada Anda suatu peristiwa yang darinya Anda dapat mengetahui dengan jelas sampai sejauh mana Bukhari secara sengaja menyelewengkan fakta dan kebenaran. Para ulama Ahlus Sunnah beserta para huffazhnya, seperti Turmudzi di dalam Sahihnya, al-Hakim di dalam Mustadraknya, Ahmad bin Hanbal di dalam Mustadraknya, Nasa'i di dalam Khasha'ishnya, Thabari di dalam Tafsirnya, Jalaluddin as-Suyuthi di dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsur, Muttaqi al-Hindi di dalam kitabnya Kanz al-'Ummal, Ibnu Atsk di dalam kitab Tarikhnya, dan banyak lagi yang lainnya, mereka meriwayatkan,

"Sesungguhnya Rasulullah saw mengutus Abu Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru dengan kalimat ini, yaitu pengingkaran dari Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan Ali untuk menyusul Abu Bakar dan memerintahkannya untuk menyeru dengan kalimat yang sama. Maka Ali as berdiri pada hari-hari tasyrig dan berseru, 'Sesungguhnya Allah SWT dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi. Dan setelah tahun ini tidak boleh ada orang Musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang.' Abu Bakar ra kembali dan berkata, 'Apakah ada ayat yang turun berkenaan denganku?' Rasulullah saw menjawab, 'Tidak. Jibril telah datang kepadaku dan berkata, 'Tidak boleh ada yang menunaikan tugas ini selain kamu atau seorang laki-laki dari kamu.'"

Di sini, Bukhari menghadapi dilema. Riwayat ini bertentangan sama sekali dengan mazhab dan keyakinannya. Riwayat ini menetapkan keutamaan Ali as, dan itu pun keutamaan yang sangat besar, sementara pada saat yang sama riwayat ini merendahkan Abu Bakar, atau setidaknya tidak menetapkan sesuatu apa pun bagi Abu Bakar. Bagaimana caranya dia bisa menyelewengkan riwayat ini bagi kepen-tingan keyakinannya, sehingga dengan begitu dia bisa menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar dan tidak sesuatu pun bagi Ali.

Marilah Anda perhatikan, bagaimana dengan kelihaiannya Bukhari dapat keluar dari keadaan yang sulit ini.

Bukhari mengeluarkan di dalam Sahihnya, kitab tafsir al-Qur’an, bab firman Allah SWT "Maka berjalanlah selama empat bulan di muka bumi",

Bukhari berkata, "Humaid bin Abdurrahman telah memberitahukan saya bahwa Abu Hurairah ra telah berkata, 'Abu Bakar mengutus saya pada ibadah haji itu ke dalam kelompok orang yang diutus olehnya pada harian menyembelih kurban di Mina untuk mengumumkan bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji, dan tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang.' Humaid bin Abdurrahman menambahkan 'Kemudian Rasulullah saw mengikutkan Ali bin Abi Thalib as dan memerintahkannya untuk mengumumkan bara'ah (pengingkaran terhadap orang musyrik). Lalu Abu Hurairah berkata, 'Maka Ali bin Abi Thalib pun bersama-sama kami mengumumkan bara 'ah kepada orang-orang yang sedang ada di Mina pada harian menyembelih kurban, dan bahwa setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji serta tidak boleh ada orang yang bertawaf dalam keadaan telanjang."'[129]

Saya berikan kesempatan kepada Anda, wahai para pembaca, untuk berkomentar, supaya Anda dapat melihat sendiri kepada penyimpangan dan pemutar-balikkan ini. Bagaimana Bukhari melenyapkan keutamaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib as, dan sebagai gantinya dia menetapkan keutamaan bagi Abu Bakar, padahal Allah SWT telah memakzulkannya dengan wahyu yang diturunkan olehNya. Jibril Berkata kepada Rasulullah saw, "Tidak boleh ada yang menunaikan tugas ini kecuali kamu atau seorang laki-laki dari kamu." Kemudian, coba lihat, bagaimana Bukhari menjadikan urusan ini berada di tangan Abu Bakar, sehingga dengan begitu Abu Bakar menjadi orang yang memerintah dan menetapkan urusan dengan kehadiran Rasulullah saw!

Masya Allah, bagaimana dia merubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.


5. Contoh Kelima:

Muslim berserikat di dalam sahihnya dengan Ibnu Hisyam dan Thabari di dalam membuang bagian dari hadis yang mendiskreditkan kedudukan Abu Bakar dan Umar. Setelah Ibnu Hisyam menukil berita tentang peperangan Badar dan informasi yang sampai kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya tentang kafilah dagang Quraisy, Ibnu Hisyam menyebutkan Rasulullah saw mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah. Ibnu Hisyam berkata, "Rasulullah saw mendapat berita tentang perjalanan kafilah dagang Quraisy, dan beliau bermaksud mencegat kafilah dagang tersebut. Maka Rasulullah saw mengajak orang-orang untuk bermusyawarah dan memberitahukan mereka tentang kafilah dagang Quraisy. Maka berdirilah Abu Bakar ash-Shiddiq mengatakan sesuatu, lalu Rasulullah saw berkata, 'Bagus!' Lalu berdiri Umar dan mengatakan sesuatu, kemudian Rasulullah saw berkata, 'Bagus!' Selanjutnya Miqdad bin 'Amr berdiri dan berkata, 'Ya Rasulullah, berjalanlah sesuai dengan apa yang telah Allah perlihatkan kepada Anda, niscaya kami bersama Anda. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepada Anda sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa manakala mereka mengatakan, 'Pergilah kamu berdua denganmu Tuhanmu dan berperanglah, adapun kami biar duduk di sini saja menunggu; melainkan kami mengatakan, 'Pergilah kamu berdua dengan Tuhanmu dan berperanglah, dan kami pun ikut berperang bersama Anda berdua.' Demi Zat yang mengutus Anda dengan kebenaran, meski pun Anda membawa kami ke dalam lautan, kami akan tetap berperang bersama Anda sehingga Anda sampai kepadanya.' Maka Rasulullah saw berkata kepadanya, 'Bagus!', dan beliau berdoa untuknya."

Yang menjadi pertanyaan kita ialah, apa yang dikatakan oleh Abu Bakar dan Umar kepada Rasulullah saw.

Jika memang bagus, lalu kenapa Bukhari tidak menyebutkannya. Kenapa Bukhari menyebutkan apa yang dikatakan oleh Miqdad namun tidak menyebutkan apa yang dikatakan oleh keduanya?!

Selanjutnya, marilah kita kembali kepada Muslim, untuk melihat apakah dia juga melakukan hal yang sama sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibnu Hisyam dan Thabari. Muslim meriwayatkan, "Rasulullah saw bermusyawarah dengan para sahabatnya manakala sampai berita kepadanya tentang kedatangan (kafilah) Abu Sufyan.." Muslim berkata, "Maka Abu Bakar berkata, namun Rasulullah saw berpaling darinya. Kemudian berkata Umar, namun Rasulullah saw berpaling darinya... kemudian Muslim menyebutkan kelanjutan hadis."[130]

Muslim juga tidak menyebutkan apa yang telah dikatakan oleh Abu Bakaar dan Umar, namun dia lebih jujur dari Ibnu Hisyam dan Thabari. Karena Muslim mengatakan , "Rasulullah saw berpaling darinya", dan tidak mengatakan, "Bagus!" Meski pun apa yang telah dilakukannya tetap merupakan kejahatan terhadap hadis. Karena dia harus menyebutkan perkataan keduanya. Dan keputusannya untuk tidak menyebutkan perkataan keduanya, menunjukkan adanya kedengkian di dalam perkara ini. Kenapa Rasulullah saw berpaling dari perkataan keduanya, jika perkataan keduanya bagus?!

Dari kedua hadis di atas —setelah terbukti secara jelas pemalsuan yang telah mereka lakukan— menjadi jelas bagi kita bahwa di sana terdapat sesuatu yang tidak layak bagi kedua Syeikh (Abu Bakar dan Umar —penerj.) yang tidak mereka sebutkan. Namun, Allah SWT tetap menampakkan cahaya-Nya meski pun orang-orang kafir tidak suka. Kitab al-Maghazi, karya al-Waqidi, dan kitab Imta' al-Asma, karya Muqrizi, menceritakan kisah ini. Setelah kedua kitab ini menyebutkan khabar di atas, kedua kitab ini menyebutkan, "Maka Umar berkata, 'Ya Rasulullah, Demi Allah, sesungguhnya mereka itu bangsa Quraisy. Demi Allah, kemuliaan mereka belum melemah sejak mereka mulia. Demi Allah, mereka belum beriman sejak mereka kafir. Dan demi Allah, selamanya mereka tidak akan menyerahkan kemuliaannya. Mereka pasti akan memerangi Anda, maka oleh karena itu bersiap sedialah dengan perlengkapan untuk itu."

Dari sini kita dapat mengetahui kenapa Rasulullah saw berpaling dari perkataan Umar. Karena perkataan yang dikatakan oleh Umar ini tidak pantas dikatakan oleh seorang sahabat Rasulullah saw. Bagaimana bisa Umar menyatakan orang musyrikin Quraisy mempunyai kemuliaan?

Apakah Rasulullah saw bermaksud hendak menghinakan mereka?

Sungguh amat disayangkan. Namun, inilah tingkat pengetahuan Umar terhadap Islam, dan begitu juga tingkat peradabannya.

Demikianlah, Bukhari dan Muslim senantiasa mencampurkan kebenaran dengan kebatilan, dan mengganti hadis-hadis yang mereka rasakan menjelekkan Abu Bakar dan Umar.

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Penulis Dan Peranan Mereka Di Dalam Menyelewengkan Kebenaran


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

Peranan para muhaddis dan sejarahwan mengukuhkan orang-orang yang datang sesudah mereka, yaitu para penulis. Mereka mengerahkan segenap usaha mereka untuk memalsukan kebenaran dan menjelek-jelekkan mazhab Ahlul Bait, dengan menggunakan berbagai macam propaganda dan penyebaran berita dusta. Mereka para penulis telah memperoleh keberhasilan besar di dalam memperdalam kebodohan pada diri anggota mazhab mereka, dan memperlebar jurang di antara mereka dengan pengenalan kepada kebenaran. Mereka telah menggambarkan Syi'ah dalam rupa yang paling buruk. Ini semua disebabkan berbagai khurafat dan sangkaan yang mereka rangkai. Saya tidak mengatakan ini hanya sekedar berupa asumsi, melainkan saya sendiri pernah mengalami kebodohan ini untuk beberapa waktu. Dan saya dapat merasakan lebih besar lagi kebodohan saya tersebut manakala hati saya telah terbuka dan diterangi oleh Allah SWT dengan cahaya Ahlul Bait. Saya menemukan masyarakat saya tenggelam di dalam timbunan kebodohan dan berbagai kebohongan atas Syi'ah. Setiap kali saya bertanya tentang Syi'ah, baik yang ditanya itu seorang ulama atau seorang yang terpelajar, mereka menjawab saya dengan serangkaian kebohongan atas Syi'ah. Misalnya, mereka menjawab bahwa Syi'ah itu mengatakan Ali adalah Rasul Allah yang sebenarnya, namun Jibril melakukan kesalahan dan menurunkan risalah kepada Muhammad. Atau, mereka mengatakan bahwa orang-orang Syi'ah menyembah Ali, atau kebohongan-kebohongan lainnya yang sama sekali bertentangan dengan kenyataan. Dan, cobaan yang paling berat dari semua itu ialah manakala kepada Anda dilontarkan pertanyaan yang mengherankan,

Apakah orang-orang Syi'ah itu Muslim?

Apa perbedaan antara Syi'ah dengan syuyu'iyyah (komunis)?

Kebodohan akan Syi'ah ini, yang dialami oleh sebagian besar dari umat Islam, adalah merupakan hasil logis dari segenap usaha dan kerja keras para penulis, sebagai akibat dari kebodohan yang diterapkan atas generasi-generasi umat ini, supaya mereka menolak dan tidak mengakui mazhab Syi'ah. Ini merupakan kelanjutan dari rencana yang telah dimulai sejak dahulu, dan diteruskan hingga hari ini. Oleh karena itu, Anda dapat menemukan beratus-ratus buku beracun yang menghujat Syi'ah, yang mereka sebarkan ke tengah-tengah masyarakat, dan biasanya dibagi-bagikan secara gratis oleh pihak Wahabi. Alangkah baiknya, jika sekiranya di tengah-tengah atmosfir yang dipenuhi dengan sikap penentangan terhadap Syi'ah, dibolehkan juga buku-buku Syi'ah beredar di tengah-tengah masyarakat, sehingga dengan begitu akan tercipta keseimbangan. Namun, ini tidak terjadi. Cobalah tengok perpustakaan-perpustakaan Islam dari kalangan Ahlus-Sunnah, mereka jarang sekali dan bahkan dapat dikatakan tidak sama sekali memuat buku-buku Syi'ah. Sebaliknya perpustakaan-perpustakaan Syi'ah, baik itu yang untuk dijual maupun yang terdapat di lembaga-lembaga ilmiah, mereka tidak kosong dari kitab-kitab dan referensi-referensi rujukan Ahlus-Sunnah, dengan berbagai macam garis dan pandangannya.

Dan yang lebih parah dari semua itu, jika seandainya Anda memberikan sebuah buku Syi'ah kepada salah seorang dari mereka, mereka tidak akan membacanya, bahkan mungkin akan membakarnya, dengan alasan bahwa dia tidak boleh membaca buku-buku sesat.

Saya masih ingat bagaimana imam mesjid di desa kami dengan lantang menyatakan kekufuran dan kesesatan saya, dan melarang semua orang untuk duduk bersama saya atau membaca buku-buku tulisan saya. Logika macam apakah ini, yang memberangus manusia dari kebebasannya berpikir. Namun, memang beginilah siasat kebodohan dan pembodohan yang mereka tempuh.


Beberapa Kitab Yang Ditulis Untuk Menentang Syi'ah:

1. Muhadharat fi Tarikh al-Umam al-Islamiyyah (Ceramah-Ceramah Tentang Sejarah Umat Islam), karya al-Khudhari.
2. As-Sunnah wa asy-Syi'ah (Sunnah dan Syi'ah), karya Muhammad Rasyid Ridha, penulis tafsir al-Manar.
3. Ash-Shira' Baina al-Watsaniyyah wa al-Islam (Pertarungan Antara Paganisme Dengan Islam), karya al-Qashimi.
4. Fajr al-Islam wa Dhuha al-Islam (Fajar Islam), karya Ahmad Amin.
5. Al-Wasyi'ah fi Naqd asy-Syi'ah (Kumpulan Kritikan Terhadap Syi'ah), karya Musa Jarullah.
6. Al-Khuthuth al-'Aridhah (Jaringan yang luas), karya Muhibuddin Khathab.
7. Asy-Syi'ah wa as-Sunnah, asy-Syi'ah wa al-Qur'an, asy-Syi'ah wa Ahlul Bait, dan asy-Syi'ah wa at-Tasyayyu'', karya Ihsan Ilahi Zhahir.
8. Minhaj as-Sunnah, Ibnu Taimiyyah.
9. Ibthal al-Bathil, Fadhl bin Ruzbahan.
10. Ushul Madzhab asy-Syi'ah, Nashir al-Ghifari.
11. Wa Ja'a Dawr al-Majus, Abdullah Muhammad al-Gharib.
12. At-Tuhfah al-Itsna 'Asyariyyah, ad-Dahlawi.
13. Jawlahfi Rubu'asy-Syarq al-Adna, Muhaddis Tsabit alMishri.

Dan kitab-kitab lainnya yang tendensius. Para ulama Syi'ah telah menjawab kitab-kitab ini dan kitab-kitab yang semisalnya dengan jawaban rinci dan cukup.

Anda dapat saksikan adanya perbedaan metode pembahasan di antara kedua jenis kitab di atas. Anda mendapati kitab-kitab Syi'ah bertujuan untuk membuktikan dan mengokohkan kebenaran mazhabnya dengan dalil-dalil yang kuat dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang, yang bersandar kepada kitab-kitab referensi Ahlus Sunnah, dengan tanpa menyerang mazhab lain. Adapun kitab-kitab yang berusaha menolak Syi'ah, sejak awal mereka bertujuan untuk menyerang mazhab Syi'ah dengan berbagai cara, meskipun dengan cara menuduh dan menciptakan kebohongan-kebohongan.

Banyak sekali bukti-bukti yang mendukung ucapan kami. Insya Allah, kami akan kemukakan beberapa contoh darinya dalam pembahasan ini.


Kitab-Kitab Syi'ah Yang Menjawab Dan Mengokohkan Kebenaran Mazhabnya

1. Asy-Syafi fi al-Imamah.

Kitab ini terdiri dari empat jilid. Di dalam kitab ini, penulisnya Syarif al-Murtadha membuktikan keimamaham sebagai dasar agama, sosial dan politik. Dia juga membuktikan dengan dalil naql dan akal yang lurus bahwa keimamahan merupakan keharusan agama dan sosial, bahwasannya Ali as adalah khalifah sepeninggal Rasulullah saw yang telah ditetapkan dengan nas, dan barangsiapa yang menentangnya maka berati dia telah menentang kebenaran. Di dalam kitabnya ini juga Syarif al-Murtadha menjawab seluruh kecurigaan maupun kesamaran yang dikatakan atau yang mungkin akan dikatakan di seputar masalah keimamahan, dan kemudian dia menggugurkannya dengan logika akal dan hujjah yang cemerlang.[131]

2. Nahj al-Haq wa Kasyf ash-Shidq, karya Allamah al-Hilli.

Kitab ini membahas sekumpulan masalah berikut ini,
a. Pemahaman (al-Idrak).
b. Pandangan (an-Nazhar).
c. Sifat-sifat Allah.
d. Kenabian.
e. Keimamahan.
f. Ma’ad (hari kiamat).
g. Ushul Fikih.
h. Masalah-masalah yang berkaitan dengan fikih.

Tampak sekali bagi para pembaca kitab ini bahwa penulisnya adalah seorang pengkaji yang objektif, yang tidak ta'assub terhadap pandangannya, dan tidak mendukung salah satu keyakinan pada permulaannya. Dia tidak membahas dan mencari dalil untuk medukung keyakinannya, melainkan dia menempatkan pendapat dan keyakinannya mengikuti Al-Qur'an, serta pendapat dan keyakinannya tunduk kepada dalil.

Fadhl bin Ruzbahan al-Asy'ari telah menulis sebuah kitab untuk mengkritik kitab ini, dan memberinya judul Ibthal al-Bathil wa Ihmal Kasyf al-'Athil. Namun dia tidak menggunakan metode sebagaimana yang digunakan oleh Allamah al-Hilli. Dia justru banyak menyerang dan mengecam. Namun, secara relatif kitab ini dapat dikatagorikan sebagai kitab yang dapat dipegang hujjahnya dan berisi diskusi ilmiah.

3. Ihqaq al-Haq, karya Sayyid Nurullah al-Husaini al-Tusturi.

Sebuah kitab yang besar, yang ditulis oleh penulisnya untuk menjawab kitab Ibthal al-Bathil yang ditulis oleh Fadhl bin Ruzbahan. Kitab lhqaq al-Haq ini telah diberi catatan oleh Ayatullah Syihabuddin al-Mar'asyi an-Najafi, sehingga tebalnya mencapai dua puluh lima jilid ukuran besar. Penulis kitab ini telah melakukan usaha yang besar dan tidak kenal lelah di dalam meneliti dan mengeluarkan hadis-hadis dan riwayat-riwayat dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sungguh, alangkah bagusnya jika kitab ini ditempatkan di tempat-tempat penyimpanan barang berharga, karena dapat dikatakan sebagai sebuah karya besar, yang mungkin sebuah tim khusus pun tidak dapat menghasilkannya.

4. Jawaban terhadap Fadhl bin Ruzbahan juga diberikan oleh Allamah al-Mudzaffar, di dalam tiga jilid kitab yang berjudul Dala'il ash-Shidq. Kitab ini juga merupakan jawaban terhadap kitab Minhaj as-Sunnah, karya Ibnu Taimiyyah, yang ditulis untuk menjawab Allamah al-Hilli di dalam kitabnya yang berjudul Minhaj al-Karamah. Namun, Allamah al-Mudzaffar tidak membahas secara panjang lebar di dalam menjawab Ibnu Taimiyyah. Dia memberikan isyarat di dalam mukaddimahnya, "Apabila tidak ada kerendahan pada point-point pembahasannya, kekotoran lidah pada penanya, bertele-telenya ungkapannya, serta permusuhannya terhadap diri Nabi al-Amin dan anak-anaknya yang suci, maka tentu layak melakukan pembahasan dengannya."[132]

5. Ensiklopedia al-Ghadir, terdiri dari 11 jilid, karya Allamah Abdul Husain al-Amini.

Ini merupakan karya besar yang dipersembahkan oleh penulisnya. Kitab ini membuktikan kebenaran mazhab Ahlul Bait melalui segenap jalan dan argumentasi. Yang lebih mengagumkan ialah, bahwa penulisnya telah menghimpun kurang lebih sembilan puluh empat ribu kitab rujukan Ahlus Sunnah di dalamnya.

Kitab al-Ghadir ini ditujukan untuk menjawab beberapa kitab Ahlus Sunnah yang ditulis untuk menentang Syi'ah, seperti kitab:
a. al-'Iqd al-Farid.
b. al-Farq Baina al-Firaq.
c. al-Milal wa an-Nihal.
d. al-Bidayah wa an-Nihayah.
e. al-Mahshar.
f. as-Sunnahwaasy-Syi'ah.
h. ash-Shira''.
i. Fajr al-Islam.
j. Zhuhr al-Islam.
k. Dhuha al-Islam.
l. 'Agidah asy-Syi'ah.
m. al-Wasyi'ah.
n. Minhaj as-Sunnah.

Allamah al-Amini telah menjawab mereka dengan baik, dengan menggunakan dalil-dalil yang terang dan argumentasi-argumentasi yang cemerlang.

Dia memiliki kelebihan dari sisi kajian yang objektif, yang tidak cenderung kepada sikap ta'assub.

6. Juga termasuk salah satu ensiklopedia besar yang membuktikan kebenaran mazhab Syi'ah, yang menjawab serangan musuh-musuhnya ialah kitab 'Abagat al-Anwar fi Imamah al-Aimmah al-Athhar, karya Sayyid Hamid Husain Ibnu Sayyid Muhammad Qili al-Hindi, namun saya belum mendapatkan naskah aslinya. Saya baru mendapat kitab ringkasannya yang berjudul Khulashah 'Abagat al-Anwar, karya Ali Husain al-Milani. Kitab ini terdiri dari 10 jilid. Kitab ini merupakan jawaban atas kitab at-Tuhfah al-Itsna 'Asyariyyah, karya Abdul Aziz ad-Dahlawi, yang mengkritik keyakinan-keyakinan Syi'ah. Sekumpulan para ulama Syi'ah telah menjawab kitab at-Tuhfah ini dengan beberapa kitab, yang di antaranya adalah kitab as-Saif al-Maslul 'ala Mukhrib Din ar-Rasul, karya Abu Ahmad bin Abdun Nabi an-Naisaburi, kitab yang terdiri dari empat jilid, yang masing-masing jilidnya dengan nama Sayyid Deldor Ali Taqi; kitab an-Nazhah al-ltsna 'Asyariyyah, karya Muhammad Qili, yang terdiri dari sekumpulan beberapa jilid kitab besar; berikutnya kitab al-Wajiz fi al-Ushul, karya Syeikh Subhan Ali Khan al-Hindi; dan kitab al-Imamah, karya Sayyid Muhammad bin Sayyid. Sayyid Muhammad bin Sayyid juga mempunyai kitab jawaban terhadap kitab at-Tuhfah dalam bahasa Persia, yang berjudul al-Bawariq al-Ilahiyyah.

Dan kitab-kitab lainnya yang merupakan jawaban terhadap ad-Dahlwi, yang disebutkan oleh penulis kitab adz-Dzari'ah dan kitab A'yan asy-Syi'ah. Dari kitab-kitab jawaban ini yang terbesar adalah kitab al- 'Abagat. Tampak dengan jelas, dari isi kitab ini, kebesaran penulis, ketajaman pandangannya, keluasan ilmunya, ketelitiannya terhadap berbagai perkataan, dan keamanahannya di penukilan ilmiah terhadap berbagai pembahasan, dan di dalam metodologinya di dalam menjawab berbagai kritikan dan sanggahan terhadap argumentasi-argumentasi yang diajukan. Dia telah memutus seluruh jalan dan alasan dengan sekuat-kuatnya hujjah dan sekokoh-kokohnya argumentasi, dan telah menolak berbagai keraguan, sehingga tidak tersisa lagi celah bagi musuh untuk menikam mazhab Syi'ah, mencela dalil dan melemahkan hadis. Dia telah menangkis semuanya dengan cara yang paling baik, dan telah menjawabnya dengan jawaban yang indah, disertai dengan penelitian yang anggun, penyelidikan yang cekatan, argumentasi yang kokoh, istidlal Alawi dan kebangkitan Ridhawi, dengan bersandar seluruhnya kepada kitab-kitab Ahlus Sunnah, dan berargumentasi dengan perkataan pilar-pilar ulama mereka, di dalam berbagai macam disiplin ilmu."[133]

Untuk melakukan itu dia telah dibantu oleh perpustakaan keluarganya yang terkenal yang terdiri lebih dari 30 ribu kitab, baik yang berupa kitab cetakan maupun kitab yang masih berupa transkrif, dari berbagai mazhab dan golongan. Hingga saat sekarang ini kita belum menemukan adanya kitab jawaban terhadap kitab al-'Abaqat, padahal kitab at-Tuhfah telah banyak mendapat jawaban. Adapun yang pertama menjawab kitab at-Tuhfah adalah Sayyid Deldor Ali di dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawarim alllahiyyah dan kitab Sharim al-hlam. Lantas kedua kitab Sayyid Deldor itu dijawab oleh Rasyi-duddin ad-Dahlawi, murid penulis kitab at-Tuhfah, dengan kitabnya yang berjudul asy-Syawkah al'Umariyyah. Selanjutnya kitab asy-Syawkah al-'Umariyyah itu dijawab oleh Baqir Ali dengan kitabnya al-Hamlah al-Haidariyyah. Demikian juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh al-Mirza di dalam kitabnya an-Nazhah al-Itsna 'Asyariyyah. Lalu salah seorang Ahlus Sunnah menjawab kitab an-Nazhah al-Itsna 'Asyariyyah dengan kitab Rujum asy-Syayathin. Selanjutnya kitab ar-Rujum asy-Syayathin dijawab oleh Sayyid Ja'far al-Musawi dengan kitabnya Mu'in ash-Shadiqin fl Radd Rujum asy-Syayathin.

Begitu juga kitab at-Tuhfah dijawab oleh Sayyid Muhammad Qili, ayah penulis kitab al- 'Abagat dengan kitabnya yang berjudul al-Ajnad al-Itsna 'Asyariiyah al-Muhammadiyyah. Selanjutnya kitab tersebut dijawab oleh Muhammad Rasyid ad-Dahlawi. Lalu Sayyid Muhammad Qili kembali menjawabnya dengan kitab al-Ajwibah al-Fakhirahfi ar-Radd 'ala al-Asya'irah, hingga akhrinya polemik ini disudahi oleh penulis kitab al'Abaqat, dan hingga sekarang belum ada yang menjawabnya. Ini cukup untuk membuktikan kelemahan dari pihak Ahlus Sunnah.

7. Ma'alim al-Madrasatain, karya Murtadha al-'Askari.

Kitab ini merupakan kitab perbandingan di antara madrasah Ahlul Bait dengan madrasah para khulafa. Penulis kitab ini bersandar kepada sikap objektif dan kajian ilmiah yang teliti. Kitab ini terdiri dari tiga juz.

8. Kitab al-Muraja'at (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Dialog Sunnah Syi'ah" —penerj.), karya Abdul Husain Syarafuddin.

Kitab ini merupakan hasil dialog di antara penulisnya dengan Syeikh al-Azhar, Salim al-Bisyri. Kitab ini terhitung sebagai dialog yang langka, di mana di dalamnya kedua orang yang berdialog menggunakan metode yang tenang dan percakapan yang santun. Abdul Husain juga mempunyai banyak kitab lain di dalam masalah ini, di antaranya adalah kitab an-Nash wa al-ljtihad, kitab al-Fushul al-Muhimmah fi Ta'lif al-Ummah, kitab al-Kalimah al-Gharra' fi Tafdhil az-Zahra, dan kitab Abu Hurairah.

Juga terdapat berbagai jawaban dari kalangan ulama Syi'ah terhadap kitab-kitab Ahlus Sunnah, seperti:
1. Ajwibah Masa'il Jarullah, oleh Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi.
2. Ma 'a al-Khathibfi Khuthuth al- 'Aridhah, karya Luthfullah ash-Shafi.
3. Syubhat Hawla asy-Syi'ah.
4. Kadzib 'ala asy-Syi'ah.

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sekilas Kontradiksi Antara Ajaran-ajaran Asy’ariyah


Oleh: Syeikh Muhammad Mar’i al-Amin al-Antaki (Ulama dan mufti Suriah)

Kontradiksi antara Ajaran-Ajaran Asy’ariyah

Sejarah menyebutkan bahwa Abul Hasan al-Asy'ari telah berpindah dari madrasah Mu'tazilah, dan mengumumkan kebergabungannya kepada madrasah Hanbaliyyah. Akan tetapi, perpindahan ini tidaklah cukup untuk dapat menjadikan dia terlepas sama sekali dari jalan Mu'tazilah. Pengaruh-pengaruh pemikiran Mu'tazilah tampak dengan jelas di dalam jalannya yang baru. Dia berusaha mengemas keyakinan-keyakinan salaf dengan kemasan akal. Namun dia tidak berhasil di dalam usahanya ini. Karena keyakinan-keyakinan salaf merupakan keyakinan-keyakinan sima'i, yang bersandar kepada hadis. Padahal banyak sekali hadis-hadis yang tidak sahih yang disisipkan oleh musuh-musuh agama ke dalam warisan Islam. Hadis-hadis ini tidak sejalan dengan kaidah-kaidah akal. Dengan demikian, hal ini menciptakan pertentangan dan kontradiksi yang amat jelas di dalam jalan Abul Hasan al-Asy'ari. Maka lahirlah sekumpulan pertentangan dan kontradiksi manakala Abul Hasan al-Asy'ari hendak mengargumentasikan keyakinan-keyakinan Ahlul Hadis dengan metode akal.

Di sini, kita akan kemukakan satu contoh dari pertentangan yang ada di dalam ajarannya. Yaitu masalah melihat Allah (ru'yatullah). Kalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah sepakat bahwa Allah SWT akan dapat dilihat. Abul Hasan al-Asy'ari dan murid-muridnya telah ber-usaha untuk mengeluarkan pembahasan ini dari hanya sekedar kerangka hadis kepada kerangka argumentasi akal.

Kitab-kitab Ahlus Sunnah penuh dengan riwayat-riwayat yang secara jelas menyatakan Allah dapat dilihat dengan mata. Berikut ini beberapa contoh dari hadis-hadis tersebut, sebelum kita menyelami pembahasan.

- Dari Jabir yang berkata, "Kami peraah duduk di sisi Rasulullah saw. Lalu, Rasulullah saw melihat ke bulan pada malam bulan purnama. Kemudian Rasulullah saw berkata, 'Kelak kamu akan melihat Tuhanmu sebagaimana sekarang kamu melihat bulan ini, yang tidak samar di dalam melihatnya. Jika kamu mampu untuk tidak bersikap lemah di dalam mengerjakan salat sebelum terbit dan terbenamnya matahari, maka lakukanlah.' Kemudian Rasulullah saw membaca ayat, 'Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit dan terbenamnya matahari.'"

Sahih Bukhari, jilid 1, bab Keutamaan salat Ashar.

Sahih Muslim, jilid 2, bab Keutamaan salat Subuh dan Asar dan memperhatikan keduanya.

- Di dalam sebuah hadis yang panjang, Abu Hurairah meriwayatkan, "Sekelompok orang berkata, 'Ya Rasulallah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?'

Rasulullah saw berkata, 'Apakah kamu berselisih di dalam melihat bulan pada malam bulan purnama, ketika tidak ada awan?'

Mereka menjawab, 'Tidak, ya Rasulullah.'

Rasulullah saw bersabda, 'Kamu tidak berselisih di dalam melihat Allah pada hari kiamat, sebagaimana kamu tidak berselisih di dalam melihat salah seorang dari kamu.' Sampai Rasulullah saw mengatakan, 'Hingga jika tidak ada yang tersisa kecuali orang yang dahulu menyembah Allah, dari orang yang saleh maupun crrang yang fasik, Allah SWT mendatangi mereka dalam wajah yang paling dekat yang pernah mereka lihat. Allah SWT bertanya, 'Apa yang sedang kamu tunggu?' .... Setiap umat mencari Tuhan yang dahulu disembahnya.

Mereka menjawab, 'Kami meninggalkan manusia ketika di dunia, dan tidak bergaul dengan mereka, dan sekarang kami tengah menunggu Tuhan yang dahulu kami sembah.'

Allah SWT berkata, 'Aku ini Tuhanmu.'

Mereka berkata, 'Kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun', sebanyak dua atau tiga kali.

Manakala sebagian dari mereka hampir berpaling, lalu Allah SWT berkata, 'Apakah antara kamu dengan Dia terdapat tanda yang dengannya kamu dapat mengenali-Nya?'

Mereka menjawab, 'Betis.' Maka Allah SWT pun menyingkapkan betisnya." Sahih Bukhari, jilid 6, tafsir surat an-Nisa, dan jilid 9, kitab at-Tauhid. Sahih Muslim, jilid 1, bab "Mengenal Jalan Ru'yah (Melihat Allah)".

- Dari Jarir bin Abdullah yang berkata, "Rasulullah saw telah bersabda, 'Kelak kamu akan dapat melihat Allah dengan matamu."

Sahih Bukhari, jilid 9, kitab at-Tauhid. Firman Allah SWT yang berbunyi, "Mereka melihat kepada Tuhannya."

Dan, berpuluh-puluh hadis lainnya yang terdapat di dalam kitab-kitab sahih. Ibnu Hajar berkata berkenaan dengan hadis-hadis ru'yah (melihat Allah), "Daruquthni telah mengumpulkan hadis-hadis yang berkenaan dengan melihat Allah pada hari akhirat, sehingga terkumpul lebih dari dua puluh hadis. Ibnul Qayyum menyelidiki hadis-hadis ru'yah di dalam kitab Hadi al-Arwah, sehingga mencapai tiga puluh hadis, dan sebagian besarnya sahih. Daruquthni berkata dengan ber-sanad kepada Yahya bin Mu'in, 'Saya mempunyai tujuh belas hadis tentang ru'yah yang kesemuanya sahih.'"[400]

Dengan hadis-hadis yang mereka anggap sahih ini, mereka mem-bangun keyakinan tentang dapat melihat Allah pada hari kiamat. Bahkan, Imam Ahmad bin Hanbal bersikap berlebihan dengan mengkafirkan setiap orang yang menentang keyakinan ini. Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mereka mengatakan mungkinnya Allah SWT dilihat di dunia.

Al-Isfira'ini berkata, "Kalangan Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah SWT akan dapat dilihat oleh orang-orang Mukmin pada hari akhirat. Mereka juga mengatakan, Allah dapat dilihat pada setiap keadaan, bagi setiap yang hidup, berdasarkan jalan akal. Adapun pada hari akhirat, Allah SWT pasti dilihat oleh orang-orang Mukmin, berdasarkan jalan riwayat."[401]

Setelah itu, para ulama mereka mengklaim telah melihat Allah SWT di dalam mimpi. Sya'rani, Ibnu Jauzi dan Syabalanji meriwayat-kan bahwa Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, "Saya mendengar ayah saya berkata, 'Saya telah melihat Tuhan yang Mahamulia di dalam mimpi. Saya berkata kepada-Nya, 'Wahai Tuhan, Sesuatu apa yang paling utama mendekatkan seseorang kepada-Mu?'

Tuhan menjawab, 'Perkataan-Ku, hai Ahmad.' Saya bertanya lagi, 'Dengan pemahaman atau dengan tanpa pe-mahaman.'

Tuhan menjawab, 'Dengan pemahaman maupun dengan tanpa pemahaman.'"[402]

Al-Alusi telah mengaku melihat Allah sebanyak tiga kali di dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma'ani, "Demi Allah, alhamdulillah, saya telah melihat Allah sebanyak tiga kali di dalam mimpi. Adapun kali yang ketiga saya melihat-Nya pada tahun 1246 Hijrah. Saya melihat-Nya terdiri dari cahaya, dan tengah menuju ke timur. Dia berbicara kepadaku dengan kata-kata yang saya lupa ketika saya bangun. Saya pernah satu kali melihat-Nya dalam sebuah mimpi yang panjang, seolah-olah saya tengah berada di dalam surga, berada di antara kedua tangan-Nya, dan antara saya dengan Dia terdapat tirai yang dikepang dengan mutiara yang beraneka ragam warnanya. Lalu Allah SWT memerintahkan saya untuk pergi ke makam Isa as, dan kemudian ke makam Muhammad saw. Maka saya pun pergi ke makam keduanya. Kemudian, saya pun melihat apa yang saya lihat. Dan hanya kepunyaan Allahlah karunia dan keutamaan."[403]

Inilah ringkasan keyakinan mereka tentang melihat Allah SWT. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan.

Sungguh, mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.

Tidak diragukan, keyakinan ini menuntut pemikiran-pemikiran sebagai berikuf

1. Sesungguhnya penglihatan inderawi (ar-ru'yah al-hissiyyah), sebagaimana yang ditekankan oleh hadis-hadis ini, menuntut sesuatu yang dilihat itu memiliki kepadatan dan warna, sehingga dapat dilihat. Di antara keharusan dari keyakinan ru 'yah (melihat Allah) ialah bahwa sesuatu yang dilihat tersebut memantulkan cahaya, berada di hadapan yang melihat, terdapat jarak di antara yang melihat dengan yang dilihat, di samping harus sehatnya indera penglihatan. Dengan syarat-syarat ini —nau'udzu billah— tentunya Allah SWT berjisim dan dibatasi oleh tempat. Sungguh, ini adalah sesuatu yang mustahil.

2. Selain itu, keyakinan ini juga mengharuskan Allah SWT tampil dengan wajah-wajah yang berbeda. Sebagaimana kata-kata hadis yang berbunyi, "Allah mendatangi mereka dalam wajah yang tidak mereka kenal. Allah SWT berkata, 'Aku ini Tuhanmu.' Mereka berkata, 'Kami berlindung kepada Allah darimu.' Maka Allah SWT pun mendatangi mereka dalam wajah yang mereka kenal." Adapun jalan yang dengannya mereka dapat mengenal Allah SWT ialah betis Allah. Masya Allah, Allah mempunyai betis yang dapat dibuka dan ditutup...!!

Keyakinan-keyakinan yang jelas-jelas kufur ini, merupakan akibat logis dari hadis-hadis Israiliyyat yang diterima oleh saudara-saudara kita Ahlus Sunnah, yang terdapat di dalam kitab Bukhari dan Muslim. Karena, jika sekiranya hadis-hadis ini tidak ada niscaya akal sehat tidak akan menerima perkataan dan keyakinan ini.

Oleh karena itu, kita mendapati Ahlul Bait as menentang keyakinan ini dan seluruh keyakinan yang mendorong kepada keyakinan tajsim dan tasybih. Mereka mendustakan hadis-hadis yang disisipkan oleh Ka'ab al-Ahbar al-Yahudi dan Wahab bin Manbah al-Yamani, yang telah banyak menyebarkan keyakinan tentang tajsim dan ru 'yah. Keyakinan ini telah memenuhi kitab-kitab Ahlus Sunnah. Sungguh, keyakinan ini amat jauh dari ajaran-ajaran Al-Qur'an.


Beberapa Contoh Hadis Ahlul Bait Yang Menaflkan Keyakinan Ru'yah

1. Muhaddis Abu Qurrah mendatangi Ali Abul Hasan ar-Ridha as. Dia bertanya tentang halal dan haram serta berbagai hukum, hingga pertanyaannya sampai kepada masalah tauhid. Abu Qurrah bertanya,

"Sesungguhnya kami meriwayatkan bahwa Allah SWT Azza Wajalla membagi ru'yah (melihat) dan kalam (bicara) di antara dua orang nabi. Allah SWT memberikan kalam kepada Musa as, dan memberikan ru'yah kepada Muhammad saw."

Abul Hasan as berkata, "Siapa yang menyampaikan ayat-ayat berikut dari Allah SWT kepada jin dan manusia, 'Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat mata', 'Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya', dan juga ayat 'Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya.' Bukankah Muhammad saw?"

Abu Qurrah berkata, "Benar."

Abul Hasan as berkata, "Bagaimana mungkin seorang laki-laki datang kepada seluruh makhluk, lalu mengatakan kepada mereka bahwa dia datang dari sisi Allah, dan menyeru mereka kepada Allah SWT dengan perintah-Nya sambil mengatakan, 'Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia daoat melihat segala sesuatu yang kelihatan', namun kemudian mengatakan, 'Saya telah melihat-Nya dengan kedua mata saya, dan telah meliputi-Nya dengan ilmu saya, dalam bentuk seorang manusia.'

Tidakkah kamu malu? Orang-orang zindiq tidak dapat menuduhnya dengan tuduhan ini, di mana dia datang dengan membawa sesuatu tentang Allah SWT, lalu kemudian datang lagi dengan membawa sesuatu kebalikannya!!"

Abu Qurrah berkata, "Sesungguhnya Allah SWT telah berkata, 'Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada waktu yang lain.'"

Abu Hasan as berkata, "Sesungguhnya setelah ayat ini terdapat ayat lain yang menunjukkan apa yang dilihatnya, di mana Dia berkata, 'Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.' Allah SWT berkata, 'Hati Muhammad tidak mendustakan apa yang telah dilihat kedua matanya.' Kemudian, Allah SWT memberitahukan apa yang telah dilihat oleh Muhammad saw, 'Sesungguhnya dia telah melihat sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.' Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bukanlah Allah SWT. Allah SWT telah berkata, 'Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya.' Jika mata telah melihat-Nya, maka berarti ilmu telah meliputi-Nya."

Abu Hurairah bertanya lagi, "Kalau begitu, berarti Anda mendustakan riwayat-riwayat ini?"

Abul Hasan as berkata, "Jika sebuah riwayat bertentangan dengan Al-Qur'an, maka aku mendustakan riwayat tersebut.

Kaum Muslimim sepakat bahwa Dia tidak dapat diliputi oleh ilmu, tidak dapat digapai oleh penglihatan mata, dan tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya."[404]

2. Abu Abdillah bin Sanan hadir di sisi Imam Abu Ja'far as. Kemudian, seorang laki-laki Khawarij masuk dan berkata, "Wahai Abu Ja'far, apa yang Anda sembah?"

Abu Ja far as menjawab, Allah.

Laki-laki Khawarij itu bertanya lagi, "Kamu telah melihatnya?" Abu Ja'far as menjawab, "Mata tidak dapat melihat-Nya dengan pandangannya, akan tetapi hati dapat melihat-Nya dengan hakikat iman. Dia tidap dapat diketahui dengan qiyas, tidak dapat digapai oleh panca indera, dan tidak dapat diserupakan dengan manusia. Dia disifati dengan ayat-ayat-Nya, dan dikenal dengan tanda-tanda-Nya. Dia tidak berlaku zalim di dalam hukum-Nya. Dia itu adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia."

Abu Abdillah bin Sinan berkata, "Maka keluarlah laki-laki Khawarij sambil mengatakan, 'Allah lebih mengetahui di mana Dia harus meletakkan risalah-Nya.'"[405]

3. Ahmad bin Ishaq menulis surat kepada Abul Hasan yang ketiga as, menanyakan tentang keyakinan ru'yah dan beberapa keyakinan yang ada di tengah manusia. Abul Hasan ketiga as menjawab dalam suratnya,

"Ru'yah tidak mungkin terjadi selama di antara yang melihat dan yang dilihat tidak ada udara yang dapat ditembus oleh penglihatan mata. Jika udara terputus, dan tidak ada cahaya di antara yang melihat dan yang dilihat, maka ru'yah tidak terlaksana, disebabkan samar."[406]


Dalil-Dalil Akal Kalangan Asy'ariyyah Tentang Bolehnya Ru'yah, Serta Pembahasannya.

Menurut kalangan Asy'ariyyah, tidak ada halangan dari sisi akal tentang kemungkinan melihat Allah SWT dengan mata. Karena, ke-mungkinan ini tidak menuntut penetapan sesuatu yang mustahil menurut akal atas Allah SWT. Adapun alasan-alasannya adalah sebagai berikut:

1. Di dalam keyakinan bolehnya Allah SWT dilihat dengan mata tidak terdapat penetapan ke-hudutsan-Nya. Karena, sesuatu yang dapat dilihat tidak menjadi sesuatu yang dapat dilihat disebabkan karena ke-hudutsan-Nya (kebaruannya, atau didahului oleh ketiadaan). Karena jika tidak demikian, maka berarti setiap yang huduts dapat dilihat.

2. Di dalam ru'yah tidak terdapat "huduts makna" pada sesuatu yang dilihat. Karena, warna dapat dilihat, namun "huduts makna" tidak terjadi atasnya. Disebabkan warna adalah 'aradh (sifat).

3. Di dalam penetapan dapat dilihatnya Allah SWT dengan mata (ru'yah) tidak terdapat tasybih (penyerupaan Allah SWT dengan makhluk), tajnis, dan juga tidak mengubah-Nya dari hakikat-Nya. Karena warna hitam dan putih tidak homogen (mutajanisan) dan tidak serupa (mutasyabihan) dengan terjadinya penglihatan atas keduanya.


Marilah kita perhatikan klaim-klaim mereka di atas,

1. Kita katakan, benar, bahwa huduts bukan merupakan syarat yang cukup di dalam ru'yah, dan diperlukan syarat-syarat lainnya, seperti jarak yang sesuai, kepadatan yang memungkinkan terpantulnya cahaya, dan tidak teijadinya beberapa kejadian yang menyebabkan tidak adanya ru'yah. Namun, ru'yah itu sendiri mengharuskan adanya arah (disebabkan faktor berada di hadapan), dan sifat fisik (disebabkan faktor kepadatan), yang mana keduanya ini mengharuskan adanya huduts. Sehingga dengan demikian, segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata adalah muhdats (baru, atau didahului oleh ketiadaan), namun tidak sebaliknya.

Berkenaan dengan point yang kedua (Di dalam ru'yah tidak terdapat penetapan "huduts makna"), kita mengatakan, sesungguhnya makna terjadi dikarenakan bersambung dengan cahaya dan mugabalah (berada di hadapan). Jika tidak ada cahaya dan muqabalah, niscaya tidak akan berlangsung penglihatan dengan mata.

Adapun berkenaan dengan point yang ketiga, kita mengatakan, sesungguhnya point yang ketiga hanya semata-mata pengakuan, sebagaimana sebelum-sebelumnya. Karena sesungguhnya tasybih tetap terjadi, dan mereka tidak dapat memungkirinya. Oleh karena hakikat ru'yah terlaksana dengan adanya mugabalah (berada di hadapan), dan muqabalah tidak terlepas dari kenyataan bahwa sesuatu yang dilihat berada pada arah dan tempat tertentu. Dengan demikian, tidak ada tasybih yang lebih jelas dari ini. Disebabkan adanya arah dan sifat fisik. Mahatinggi Allah dari yang demikian itu. Sungguh, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

2. Baqilani berkata, "Adapun hujjah atas yang demikian itu ialah bahwa Allah SWT ada. Sesungguhnya sesuatu dapat dilihat disebabkan karena dia ada. Sesuatu tidak dapat dilihat karena jins-nya. Karena kita tidak melihat jins yang bermacam-macam. Demikian juga, sesuatu dapat dilihat bukan karena ke-hudutsan-nya".[407]

Dengan penjelasan lain, "Selama kita melihat a'radh (jamak dari kata 'aradh, yang berarti sifat) maka tentunya kita pun melihat jawahir (jamak dari kata jawhar, yang berarti substansi)."[408]

"Sesungguhnya ru'yah merupakan kesamaan di antara jawhar dan 'aradh. Oleh karena itu, mau tidak mau ru 'yah harus memiliki satu sebab, yaitu kalau tidak wujud maka huduts. Huduts itu sendiri tidak dapat menjadi sebab ('illah), dikarenakan dia adalah perkara ketiadaan ('adami). Sehingga dengan demikian, maka wujudlah yang menjadi sebab dari ru'yah. Kemudian, dapat disimpulkan bahwa ru'yah dapat berlaku pada al-Wajib dan al-mumkin"[409]

Lemahnya argumentasi ini tampak jelas sekali. Karena banyak sekali sesuatu yang tidak dapat dilihat namun keberadaannya (wujudnya) tidak diragukan. Seperti pikiran, keyakinan, dan keinginan.

Ini menunjukkan akan adanya sebab lain bagi ru'yah, namun bukan wujud.

Oleh karena itu, dari kalangan Asy'ari sendiri banyak yang memprotes argumentasi ini. Seperti pensyarah kitab al-Mawaqif, demikian juga Taftazani di dalam Syarh al-Mathali', dan juga al-Qusyji di dalam kitab Syarh at-Tajrid.[410]

Kata "wujud" lebih pas dari kata "huduts" untuk dijadikan sebagai syarat bagi ru'yah. Namun ungkapan yang mengatakan secara mutlak bahwa "setiap yang ada dapat dilihat" adalah ungkapan yang salah. Supaya menjadi benar, ungkapan tersebut harus diberi batasan dengan syarat-syarat ru'yah. Dan, syarat-syarat ru'yah tidak sejalan kecuali dengan mawjud yang berupa makhluk. Adapun berkenaan dengan Allah SWT, tidak mungkin membandingkan makhluk dengan Pencipta, "Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. " Jangan lupa, bahwa penerapan hukum-hukum alamiah atas Allah SWT adalah tasybih dan kebodohan.


Dalil-Dalil Kalangan Asy'ariyyah Tentang Ru'yah Dari Al-Qur'an al-Karim, Dan Pembahasannya.

Allah SWT berfirman, "Sekali-kali janganlah demikian. Sebenamya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya lah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. " (QS. al-Qiyamah: 20 - 25)

Kalangan Asy'ari telah membeda-bedakan arti kata an-nazhar. Pertama, dengan arti mengambil pelajaran (i'tibar). Sebagaimana dalam ayat yang berbunyi, "Maka apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari unta, bagaimana dia diciptakan." (QS. al-Ghasyiyah: 17) Kedua, dengan arti menunggu (intizhar). Sebagaimana dalam ayat yang berbunyi, "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja." (QS. Yasin: 49) Ketiga, dengan arti rahmat. Sebagaimana dalam ayat yang berbunyi, "Dan Allah tidak akan memberikan rahmat kepada mereka." (Ali 'lmran: 77) Adapun yang keempat ialah dengan arti melihat.

Dari sekian arti ini, kalangan Asy'ari memilih arti "melihat", disebabkan tidak sesuainya arti-arti yang lain. Adapun berkenaan dengan arti yang pertama, yaitu mengambil pelajaran (i'tibar), sesungguhnya negeri akhirat bukanlah negeri pengambilan pelajaran melainkan negeri balasan. Sementara arti yang kedua, yaitu menunggu (intizhar) sesungguhnya kata ini dikaitkan dengan wajah. Di samping itu, pekerjaan menunggu adalah sesuatu yang melelahkan, dan ini tidak sesuai dengan keadaan para ahli surga. Adapun arti rahmat, tidak dapat diterima, dikarenakan tidak mungkin makhluk memberikan rahmat dan kasih sayang kepada pencipta.

Kemudian, mereka memilih makna melihat, dengan petunjuk berdasarkan lidah orang Arab. Yaitu bahwa kata nazhar dengan arti "melihat" selalu diimbuhi kata ila, dan orang-orang Arab tidak menggunakan kata nazhar untuk arti menunggu dengan menggunakan imbuhan ila. Seperti firman-Nya yang berbunyi, "Ma Yandzuruna illa shaihatan wahidah" (Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja). Ketika Allah SWT menghendaki arti menunggu, Dia tidak mengim-buhi dengan kata ila. Oleh karena itu, tatkala Allah SWT mengatakan "Ila Rabbiha Nazhirah " (Kepada Tuhannyalah mereka melihat), maka kita tahu bahwa Dia tidak menginginkan arti menunggu, melainkan yang Dia inginkan adalah arti melihat. Demikian juga, tatkala Allah SWT menyertai arti "melihat" dengan menyebut kata "wajah", maka dari situ kita tahu bahwa melihat di sini ialah melihat dengan kedua mata yang ada di wajah."

Mereka juga beragumentasi bahwa kata nazhar di dalam ayat ini tidak mungkin berarti menunggu (intizhar). Karena menunggu (intizhar) merupakan pengurangan, dan yang demikian itu tidak ada pada hari kiamat. Oleh karena surga adalah tempat kenikmatan dan bukan tempat pahala atau siksaan.


Beberapa Catatan Atas Dalil-Dalil Di Atas

1. Adapun perkataan mereka yang mengatakan, jika kata nazhar berarti melihat maka diimubuhi kata ila, sedangkan jika berarti menunggu maka tidak diimbuhi kata ila, perlu kita jawab sebagai berikut: Sesungguhnya kata nazhirah yang terdapat pada ayat di atas adalah isim fa'il. Isim fa'il di dalam amalnya merupakan cabang dari fi'il. Dan, kecabangan (far'iyyah) ini menyebabkan lemahnya 'amil, sehingga oleh karena itu, dia memerlukan sesuatu yang menguatkannya. Di samping itu, di sini, ma'mul juga didahulukan (muqaddam), dan pendahuluan (taqdim) ini tentunya merupakan sebab lainnya lemahnya 'amil. Oleh karena itu, kata nazhirah di sini diimbuhi kata ila.

Di samping itu, penggunaan kata nazhara yang diimbuhi dengan kata ila, dengan arti melihat, juga digunakan di dalam perkataan orang Arab. Sebagaimana perkataan Hasan bin Tsabit di dalam syairnya,

"Wujuhun Yauma Badr Nazhirat Ilar Rahman Ya'ti bil Falah. "

(Pada hari badar, wajah-wajah menanti Tuhan
yang akan datang dengan membawa kemenangan)
Penggunaan yang seperti ini banyak sekali digunakan.

Al-Qur'an al-Karim juga telah mengimbuhi kata isim fa'il nazhirah dengan imbuhan huruf ba di dalam ayatnya yang berbunyi, "Fa Nazhirah Bima Yarji' al-Mursalun". Yang artinya, "Dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu."

Ini artinya, bahwa kata nazhirah dapat berarti "menunggu", baik dengan imbuhan maupun dengan tanpa imbuhan.

2. Adapun perkataan mereka yang mengatakan bahwa "menunggu" adalah berarti pengurangan dan tidak sesuai dengan ahli surga, kita perlu bertanya, dari mana dapat diketahui bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang surga?!

Bahkan, kita dapat mengetahui bahwa ayat-ayat ini tengah berbicara tentang saat "hisab", berdasarkan petunjuk ungkapan ayat, "Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat." Rangkaian ayat ini menceritakan tentang keadaan mereka sebelum masuk ke tempat mereka yang kekal. Karena, jika mereka masuk ke dalam nereka, maka berarti telah ditimpakan kepada mereka malapetaka yang amat dahsyat.

Oleh karena itu, arti "menunggu" sangat tepat sekali. Terlebih lagi, ini merupakan penggunaan yang sebenarnya dalam lidah orang Arab. Dengan demikian, kelompok Asy'ari tidak berhak memblokade makna ini.

Jika kita mengatakan bahwa kata nazhar di dalam ayat di atas berarti menunggu, maka itu artinya kita menafikan Allah dapat dilihat secara inderawi. Sebaliknya, jika kita mengatakan bahwa kata nazhar di dalam ayat di atas berarti melihat, maka yang dimaksud darinya ialah penggunaannya sebagaimana arti kiasan (majazi). Penetapan penggunaan yang seperti ini (yaitu penggunaan kata nazhar dengan arti melihat sebagai arti kiasan) telah dilakukan oleh Syeikh Ja'far Subhani. Yaitu dengan cara men-taqdir-kan (menentukan) adanya mudhaf yang dibuang, sehingga berdasarkan taqdirnya bunyi ayat di atas berbunyi, "ila tsawabi rabbiha nazhirah" (Mereka menunggu ganjaran Tuhannya). Penetapan taqdir yang seperti ini dibenarkan oleh hukum akal, setelah menghadapkan satu sama lain di antara ayat-ayat yang ada. Ayat yang ketiga dihadapkan kepada ayat yang pertama, dan ayat yang keempat dihadapkan kepada ayat yang kedua. Ketika dilakukan penghadapan yang seperti ini, maka kesamaran yang ada pada ayat yang kedua dapat dilenyapkan dengan ayat yang keempat. Berikut ini penyusunan ayat-ayat di atas berdasarkan perbandingan,
a. Ayat "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri", dibandingkan dengan ayat "Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram".
b. Ayat "Kepada Tuhannyalah mereka melihat" dibandingkan ayat "Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat".

Oleh karena ayat yang keempat, yang berbunyi "Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat", jelas artinya, maka dia menjadi petunjuk bagi maksud dari ayat yang kedua, yaitu yang berbunyi "Kepada Tuhannya lah mereka melihat".

Jika maksud dari ayat yang keempat ialah bahwa orang-orang yang berdosa tengah menantikan azab pedih yang akan turun kepadanya, maka ini menjadi petunjuk bahwa kelompok orang-orang yang taat tengah menantikan rahmat dan karunia Allah yang dijanjikan kepada mereka. Sehingga dengan demikian, arti melihat di sini bukanlah berarti melihat kepada Zat Allah SWT. Karena jika tidak, maka tentu dua hal yang saling berhadapan (mutaqabilan) ini telah keluar dari keadaan berhadapan (taqabul), dan ini tentunya menyalahi.

"Dua hal yang saling taqabul —berdasarkan hukum taqabul— harus mempunyai makna dan pemahaman yang sama, dan tidak berbeda sedikit pun di antara keduanya kecuali dalam masalah positif (itsbat) dan negatif (nafi)".[411]

Dengan muqabalah ini ayat menjadi jelas artinya. Terlebih lagi rangkaian ayat ini tengah berbicara tentang saat hisab, sehingga dengan demikian tidak ada yang diharapkan selain dari ganjaran dan rahmat.

Sejumlah riwayat mengisyaratkan kepada makna ini. Seperti riwayat yang terdapat di dalam kitab Tawhid ash-Shaduq, yang berasal dari Imam ar-Ridha as, tentang firman Allah SWT yang berbunyi "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya", yaitu yang artinya "wajah-wajah mereka berbinar menantikan ganjaran Tuhannya".[412]

Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa pemahaman "melihat kepada Zat Allah" itu telah keluar dari kerangka ayat ini dengan kedua kemungkinannya. Jika arti dari kata nazhirah itu menunggu, tentunya terkubur kemungkinan penunjukkan arti ayat ini kepada melihat dengan mata (ru'yah). Demikian juga, jika arti dari kata nazhirah itu melihat, maka itu tidak lain hanya merupakan kiasan dari menunggu rahmat Allah SWT. Sebagaimana ungkapan yang berbunyi, "Jangan kamu melihat kepada tangan si Fulan", dengan arti "Jangan kamu mengharapkan pemberian si Fulan". Penggunaan ungkapan yang seperti ini biasa digunakan. Sebagai contoh, seorang penyair berkata,

"Sesungguhnya aku melihat kepadamu dikarenakan apa yang telah kamu janjikan

Sebagaimana pandangan seorang yang fakir kepada seorang yang kaya."

Oleh karena itu, orang-orang Mukmin melihat (mengharapkan) kepada rahmat Allah SWT pada hari kiamat. Adapun orang-orang yang kafir, keadaan mereka jelas beradasarkan firman Allah SWT yang berbunyi,

"Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yangpedih." (QS. Ali 'lmran: 77)

Jelas, yang dimaksud dengan ungkapan "tidak melihat kepada mereka" di dalam ayat di atas ialah Allah tidak memberikan rahmat kepada mereka, dan bukannya mereka tidak dapat melihat Allah SWT.

(Ahlulbaytku/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Commet Facebook Umum ABNS

 
Copyright © 2014 AHLUL BAIT NABI SAW Powered By AHLUL BAIT NABI SAW.