BREAKING NEWS

AHLUL BAIT NABI SAW: KESAKSIAN-KESAKSIAN AHLUS SUNNAH, SMS +6281809556588

RSS

Category 2

Category 3

Category 4

Category 5

Kamis, 17 Agustus 2017

Surat 11


Instruksi kepada Kontingen untuk Menghadapi Musuh [1]

Ketika Anda maju kepada musuh atau ia maju kepada Anda, kedudukan pasukan Anda harus berada dekat pada tanah tinggi atau di tepi ujung perbukitan atau pada tikungan sungai, agar ia dapat menjadi pertolongan dan tempat kembali bagi Anda. Pertarungan Anda haruslah dari satu sisi atau dua sisi. Tempatkan penjaga pada puncak-puncak bukit dan sisi-sisi yang tinggi dari tanah tinggi agar musuh tak dapat mendekati Anda dari suatu tempat, baik dalam bahaya atau aman. Dan ketahuilah bahwa baris depan suatu tentara merupakan mata mereka, dan mata tentara baris depan itu adalah para pemberitahu mereka. Hati-hatiah terhadap kecerai-beraian. Apabila Anda berhenti, berhentilah bersama-sama, dan bila Anda bergerak, bergeraklah bersama-sama. Bilamana malam tiba, tempatkan enam tombak dalam suatu lingkaran dan janganlah tidur kecuali sekadar tidur tak lelap sebentar. •


Referensi::

[1] Ketika Amirul Mukminin (as) menempatkan Ziyad ibn Nadhr al-Hâritsî dan Syuraih ibn Ham al-Hâritst memimpin kontingen-kontingen yang terdiri dari delapan ribu dan empat ribu orang di perkemahan Nukhailah dan memerintahkan mereka untuk maju ke Suriah, timbul suatu perselisihan di antara mereka tentang pangkat mereka. lalu mereka memberitahukannya kepada Amirul Mukminin dan menulis surat mengadukan halnya masing-masing. Sebagai jawaban, Amirul Mukminin menulis surat bahwa bilamana mereka bergabung dalam perjalanan, maka pimpinan seluruh pasukan berada di tangan Ziyad ibn Nadhr, dan apabila mereka berpisah maka masing-masing memimpin pasukan yang telah ditetapkannya sebelumnya.

Dalam surat ini Amirul Mukminin juga menulis untuk mereka beberapa instruksi tertentu. Di sini Sayid Radhi hanya mencatat bagian yang berisi instruksi-instruksi. Instruksi-instruksi ini tidak hanya berguna untuk mengetahui strategi pertempuran masa itu, tetapi manfaal dan pentingnya untuk mengetahui prinsip-prinsip pertempuran yang di masa kini pun tak tersangkal. Menurut instruksi ini, dalam pertarungan melawan musuh, pasukan harus berkemah dekat puncak-puncak bukit dan kelokan sungai, karena secara itu bagian rendah sungai akan berperan sebagai kubu dan puncak-puncak gunung akan menjadi tembok benteng, dan dengan demikian, akan menimbulkan rasa aman dari sisi-sisi itu ketika menghadapi musuh di sisi lain. Kedua, serangan harus dari satu sisi atau paling-paling dari dua sisi, karena dengan distribusi dari seluruh pasukan pada beberapa front pasti akan timbul kelemahan. Ketiga, para penjaga harus ditempatkan di tempat tinggi dan puncak-puncak bukit sehingga mereka dapat memberi peringatan sebelum adanya serangan. Kadang-kadang terjadi bahwa ketimbang menyerang dari sisi yang diperkirakan, musuh menyerang dari sisi lain. Apabila para penjaga ditempatkan di tempat-tempat ketinggian, mereka dapat mendeteksi musuh dari debu yang beterbangan yang nampak dari jauh. Untuk menjelaskan pentingnya aspek instruksi ini Ibn Abil Hadid (dalam Syarh Nahjul Balâghah, XV, h. 91) mencatat suatu insiden historis. Ketika Qahthabah ibn Syabib ath-Tha'i berkemah di sebuah desa setelah meninggalkan Khurasan, dia dan Khalid ibn Barmak pergi duduk di puncak suatu tanah tinggi di dekai situ. Tak lama kemudian Khalid melihat kelompok rusa berlarian dari hutan. Ketika melihat hal itu, ia berkata kepada Qahthabah, "Hai komandan, bangkit dan umumkan pada tentara supaya segera berbaris dan menyiapkan senjata." Mendengar ini Qahthabah kaget dan setelah melihat ke sana ke mari, ia berkata, "Saya tidak melihat musuh di mana pun." la menjawab, "Hai Amir, sekarang tak ada waktu luang untuk bercakap-cakap. Anda lihat rusa-rusa itu pada lari menuju ke arah tempat penduduk dan meninggalkan tempat tinggal mereka. Itu berarti bahwa tentara musuh sedang berjalan di belakangnya." Maka ia pun memerintahkan tentaranya untuk bersiap. Segera setelah tentaranya bersiap, bunyi derap kaki kuda kedengaran dan sejenak kemudian musuh pun menyerang. Karena sempat bersiap untuk pertahanan, mereka lawan musuh itu dengan sepenuh kekuatan. Sekiranya Khalid tidak di ketinggian dan tidak bertindak bijaksana, musuh akan berhasil menyerang secara mendadak dan memusnahkan mereka. Keempat, para pengintai harus disebarkan di sana sini supaya mereka memperingatkan gerakan-gerakan dan maksud musuh dan dengan begitu rencana musuh dapat dipatahkan. Kelima, bahwa bilamana sedang berkemah atau melakukan perjalanan, tentara harus bersama-sama agar musuh tidak menyerang pasukan yang dalam keadaan tercerai berai. Keenam, di malam hari penjaga malam harus dibentuk dengan menetapkan tombak di tanah sehingga apabila musuh menyerang di malam hari mereka dapat segera bersiap untuk bertahan dengan mengambit senjata dan apabila musuh menghujankan panah hal itu pun dapat ditangkis. Ketujuh, tidur nyenyak harus dielakkan agar Anda tetap waspada akan mendekatnya musuh yang mungkin akan membinasakan Anda sebelum Anda siap.

(Nahjul-Balaghah/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Surat 10


Kepada Mu'awiah

Apa yang akan Anda lakukan apabila pakaian duniawi di mana Anda terbungkus ini disingkirkan dari Anda? Dnnia menarik Anda dengan perhiasannya dan menipu Anda dengan kesenangannya. la memanggil Anda dan Anda menyambutnya. la menumpin Anda dan Anda mengikutinya. la memerintah Anda dan Anda menaatinya. Tak lama lagi pemberitahu akan memberitahukan kepada Anda tentang hal-hal yang terhadapnya tak akan ada perisai (untuk melindungi Anda). Oleh kerena itu menjauhlah dari urusan ini, perhatikanlah tanggung jawab (pada Hari Pengadilan), bersiap-siaplah untuk kematian yang segera akan menyusul Anda, dan janganlah memberikan telinga Anda kepada orang-orang yang telah tersesat. Apabila Anda tak berbuat demikian, saya akan mengingatkan Anda tentang segala yang telah Anda lupakan, karena Anda lelaki yang hidup dalam keenakan dan kemewahan. [1] Iblis telah mengambil Anda dalam cengkeramannya, telah mengamankan keinginan-keinginannya dalam diri Anda dan telah mengambil kekuasaan penuh atas Anda seperti jiwa dan darah Anda.

Hai, Mu'awiah! Sejak kapan Anda semua menjadi pelindung rakyat dan wali urusan manusia tanpa suatu langkah maju atau keutamaan yang menonjol. Kami memohon perlindungan Allah terhadap menimpanya malapetaka sebelumnya, dan saya peringatkan Anda agar Anda tidak terus tertipu oleh hawa nafsu dan penampilan Anda menjadi lain dari batin Anda.

Anda telah memanggilnya untuk berperang. Lebih baik meninggalkan rakyat di satu sisi, keluarlah menghadapi saya, dan bebaskan kedua pihak dari berperang supaya dapat diketahui siapa di antara kita yang mempunyai hati berkarat dan mata yang bertutup. Saya adalah Abul Hasan yang telah membunuh kakek, [2] saudara, [3] dan paman Anda [4] dengan mencencang mereka di Hari Badr. Pedang yang sama itu ada pada saya, dan saya menghadapi lawan saya dengan hati yang sama. Saya tidak mengubah agama atau mengada-adakan seorang nabi baru. Saya sesungguhnya (sedang melangkah) pada jalan yang sama yang dengan sengaja telah Anda tinggalkan (pada mulanya) kemudian (anda) terima secara terpaksa. Anda mengira Anda telah keluar mencari pembalasan dendam atas darah 'Utsman. Sesungguhnya Anda tahu bagaimana darah 'Utsman tertumpah. Apabila Anda hendak membalaskan dendamnya, balaskanlah di sana. Seakan-akan saya melihat bahwa bilamana peperangan sedang memotong Anda dengan gigi-giginya Anda menjerit seperti unta yang menjerit di bawah beban berat. Dan seakan-akan saya melihat pihak Anda bingung oleh serangan pedang yang tak berkepumsan, terjadinya maut dan jatuhnya tubuh satu demi satu, memanggil saya kepada Al-Qur’an [5] walaupun mereka sendiri entah kafir, penolak kebenaran atau pelanggar baiat, untuk menyumpahkannya. •


Referensi:

[1] Ini merujuk kepada ayat,

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, 'Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya'." (QS. 34:34)

[2] Utbah ibn Rabî’ah.

[3] Hanzhalah ibn Abu Sufyan.

[4] Walid ibn 'Utbah.

[5] Ramalan Amirul Mukminin ini adalah tentang Perang Shiffin. Di sini ia telah menggambarkannya secara keseluruhan dalam ungkapan yang simpel. Demikianlah, di satu sisi Mu'awiah bingung karena serangan orang Iraq dan sedang berpikir untuk melarikan diri, di sisi lain tentaranya sedang berteriak-teriak di bawah ancaman kematian yang konstan; dan akhirnya, ketika tak ada jalan untuk melarikan diri, mereka mengangkat mashaf Al-Qur'an di ujung tombak sambil berseru meminta perdamaian. Dengan rekayasa ini, orang-orang yang tersisa itu menyelamatkan nyawanya. Ramalan itu tak dapat diatributkan pada imajinasi, terkaan, atau penarikan kesimpulan dari kejadian-kejadian. dan tak dapat pula detail-detail ini ditegaskan oleh kecerdasan atau pemikiran yang menjangkau jauh. Yang dapat mengungkapkannya hanyalah orang yang sumber-sumber informasinya adalah lidah Nabi (saw) sendiri yang berdasarkan wahyu atau karena inspirasi Ilahi.

(Nahjul-Balaghah/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Surat 9


Kepada Mu'awiah

Kaum kami (Quraisy) memutuskan untuk membunuh Nabi kami dan memusnahkan akar kami. [1] Mereka menciptakan kecemasan-kecemasan bagi kami, berperilaku kasar kepada kami, menolak bagi kami kemudahan hidup, menempatkan kami pada ketakutan, memaksa kami berlindung di gunung yang kasar, dan menyalakan api peperangan terhadap kami.

Kemudian Allah memberikan kepada kami tekad untuk melindungi agama-Nya, dan membela kehormatan-Nya. Kaum mukmin di antara kami mengharapkan ganjaran (Ilahi) darinya, dan kaum kafir di antara kami memberikan dukungan karena kekerabatan. Orang-orang yang menerima Islam dari antara orang Quraisy berada jauh dari kesusahan di mana kami terlibat, karena suatu janji yang melindungi mereka, atau karena suku yang akan bangkit mendukung mereka. Karena itu mereka selamat dari pembunuhan. Menurut sunah Nabi (saw), bilamana pertempuran menjadi sengit dan orang-orang mulai kehilangan pijakan, beliau mengirimkan ke depan para anggota keluarganya dan, melalui mereka, melindungi para sahabat beliau dari serangan pedang dan tombak. Secara ini 'Ubaidullah ibn Hârits, terbunuh pada Hari Badr. Hamzah (ibn 'Abdul Muththalib) pada hari Uhud, dan Ja'far (ibn Abi Thalib) pada hari Mu'tah. Satu orang lagi, yang dapat saya sebutkan namanya apabila saya mau, berhasrat mencari kematian syahid sebagaimana mereka, tetapi kematian mereka mendekat sementara kematiannya belum mendekat.

Betapa anehnya bahwa saya dikelompokkan dengan orang yang tak pernah menunjukkan kecepatan langkah seperti saya dan tidak pula ia mempunyai reputasi baik atas suatu prestasi seperi prestasi saya, kecuali ia mengakui sesuatu yang tidak saya ketahui dan saya kira Allah pun tidak mengetahuinya. Bagaimanapun, segala pujian hanya bagi Allah semata-mata

Mengenai permintaanmu untuk menyerahkan kepadamu para pembunuh 'Utsman, saya telah memikirkan urusan ini dan saya tak mendapatkan bahwa penyerahan mereka kepadamu atau kepada seseorang lain adalah mungkin bagi saya. Demi hidupku, apabila engkau tidak berhenti dari cara-caramu yang batil serta tindakan-tindakan yang memecah-belah, engkau pasti akan mengetahui mereka. Tak lama lagi mereka akan mencarimu dan tidak akan merepotkanmu untuk mencari mereka di bumi, laut, gunung atau padang. Tetapi pencarian ini akan menyakitkan bagimu, dan kunjungan mereka tidak akan memberikan kebahagiaan bagimu. Salam bagi orang yang berhak atasnya. •


Referensi:

[1] Ketika Nabi (saw) diperintahkan Allah untuk menyeru manusia beriman kepada Allah Yang Esa, kekuatan-kekuatan kafir dan pembangkang bangkit untuk menghalangi Kebenaran, dan suku Quraisy bertekad untuk memadamkan suara ini melalui penekanan dan kekerasan. Cinta kepada dewa-dewa mereka demildan keras di dalam hati kaum kafir itu sehingga mereka tidak bersedia mendengarkan sepatah kata pun yang menentangnya. Gagasan tentang Satu Tuhan cukuplah untuk membangkitkan hawa nafsu mereka. Lagi pula mereka dipaksa mendengarkan kata-kata tentang para berhala mereka, yang sebenamya tidak lebih baik dari batu-batu tak bernyawa. Ketika mereka melihat prinsip-prinsip dan kepercayaan mereka terancam bahaya, mereka meinpersiapkan diri untuk mengganggu Nabi dan bersedia menggunakan segala cara untuk itu. Mereka menyusun rencana untuk menimpakan bencana kepada Nabi sehingga tak mungkin beliau melangkah keluar rumah. Orang-orang yang menerima Islam di masa itu pun harus menghadapi cobaan yang terus-menerus. Misalnya, kaum mukmin itu sering dibaringkan di tanah di bawah terik matahari dan dipukuli sampai pingsan. Ketika penganiayaan orang Quraisy sudah sampai sejauh itu, Nabi (saw) mengizinkan mereka meninggalkan Makkah lalu hijrah ke Etiopia pada tahun kelima kenabian beliau. Kaum Quraisy mengikuti mereka ke sana pula, tetapi penguasa Etiopia tak mau menyerahkan kaum pengungsi itu kepada mereka, dan keadilan penguasa Etiopia tak memberikan kesempatan kepada kaum Quraisy untuk mengganggu para pengungsi itu. Di sisi lain dakwah Nabi terus berlanjut, dan magnet dan pengaruh Kebenaran pun menghasilkan efeknya. Orang-orang terkesan oleh ajaran dan kepribadian beliau dan datang ke rangkulannya, yang menimbulkan perasaaa sangat cemas di kalangan Quraisy yang berusaha menghentikan pengamh dan kekuatannya yang terus meningkat. Ketika mereka gagal dalam hal ini, mereka memutuskan segala hubungan dengan Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muththalib, tak boleh mengadakan hubungan sosial, tak boleh mengadakan transaksi jual beli dengan mereka, untuk memaksa mereka melepaskan dukungannya kepada Nabi, agar kaum kafir dapat mengurusi beliau sesuka hati mereka. Mereka mengadakan suatu kesepakatan bersama dan dibuatkanlah satu dokumen tentang hal itu. Setelah kesepakatan itu, walaupun tempatnya sama dan penduduknya pun sama, namun Bani Hasyim di setiap penjuru menjadi terasing seakan-akan mereka tidak dikenal. Sekalian kaum Quraisy kafir memalingkan wajah dan menghindari setiap pertemuan dan kontak. Dalam keadaan itu ada kekhawatiran kalau-kalau Nabi diserang secara mendadak di suatu tempat di luar kota. Karena itu mereka terpaksa mencari perlindungan di suatu tempat yang dinamakan Syi'b Abu Thalib. Pada tahap ini anggota Bani Hasyim yang belum menerima Islam ikut serta menanggung pengucilan itu karena kesatuan silsilahnya dan memberikan pembelaan di saat perlu, sementara orang-orang yang telah menerima Islam, seperti Hamzah dan Abd Thalib, aktif melindungi Nabi karena kewajiban agamawi. Terutama Abu Thalib, yang telah menyerahkan semua kesenangan dan kemudahan hidupnya. la melewatkan siang hari dengan menghibur Nabi dan di malam hari mereka bergiliran menggunakan tempat tidur; apabila Nabi menggunakan suatu tempat tidur di suatu malam, malam berikutnya 'Ali disuruh tidur di tempat tidur itu, sehingga bila seseorang menyerang, maka 'Ali yang akan menanggung pukulannya yang terberat.

Itu masa pengucilan dan kesulitan besar bagi Bani Hasyim. Apabila mereka dapat beroleh daun-dauanan, cukuplah itu untuk dimakan; apabila tidak maka mereka harus menahan lapar. Dalam waktu tiga tahun dalam kesulitan ini Zubair ibn Abi Umayyah, Hisyam ibn 'Amr, Muth'im ibn 'Adi, Abul Bukthuri al-'Ash dan Zam'ah ibn Aswad mengusulkan agar kesepakatan itu dihapus. Untuk membahas masalah ini para sesepuh Quraisy beisidang di Ka'bah. Sebelum keputusan diambil, Abu Thalib keluar dari syi'b itu lalu bergabung dengan mereka. la berkata kepada mereka, "Kemanakan saya mengatakan kepada saya bahwa surat dokumen di mana kesepakatan itu ditulis telah dimakan rayap dan tak ada sisanya kecuali nama Allah. Ambillah dokumen itu dan lihatlah. Apabila ia benar, maka Engkau harus melepaskan kesepakatan itu; dan apabila ia salah, maka saya bersedia menyerahkannya kepada kalian." Dokumen itu pun diambil dan diperiksa. Kenyataannya benar, selain kata-kata "dengan nama-Mu, ya Tuhanku", yang dituliskan di awal dokumen itu, semua tulisannya telah habis dimakan rayap. Melihat hal ini, Muth'im ibn 'Adi merobek dokumen itu dan dengan demikian maka kesepakatan itu dihapus. Akhirnya Bani Hasyim terlepas dari kehidupan teraniaya dan kesengsaraan; tetapi bahkan setelah itu pun tak ada perubahan dalam perilaku kaum kafir terhadap Nabi; malah permusuhan dan kebencian mereka kepada beliau demikian mengeras sampai mereka memikirkan untuk merenggut nyawanya, yang mengakibatkan peristiwa besar Hijrah. Pada kejadian itu Abu Thalib telah meninggal, namun 'Ali mewakilinya dengan berbaring di tempat tidur Nabi, sesuai gagasan Abu Thalib untuk melindungi nyawa Nabi.

Walaupun kejadian-kejadian itu bukan tidak diketahui Mu'awiah, namun dengan mengisahkan kembali perbuatan-perbuatan para pendahulunya Amuul, Mukminin bermaksud membangkitkan ruh dengkinya. Oleh karena itu perhatiaanya ditarik kepada kesulitan yang ditimpakan kepada Nabi dan para penganut, beliau oleh kaum Quraisy dan Bani 'Abdu Syams agar ia dapat melihat masing-masing pengikut kebenaran dan pengikut kebatilan dan menyadari apakah ia sendiri sedang melangkah di jalan benar atau hanya mengikuti jalan nenek moyangnya.

(Nahjul-Balaghah/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Surat 8


Kepada Jarîr ibn 'Abdullah al-Bajalî ketika Amirul Muknunin Mengutusnya kepada Mu'awiah (dan Kembalinya Tertunda)

Kemudian daripada itu, ketika Anda menerima surat saya ini, mintalah Mu'awiah mengambil keputusan terakhir dan mengikuti jalan yang tegas. Kemudian, mintalah kepadanya untuk memilih peperangan yang mengasingkannya dari rumah, atau ketaatan. Apabila ia memilih perang, maka tinggalkanlah dia, tetapi apabila ia memilih perdamaian, dapatkanlah baiatnya. Wasalam. •


(Nahjul-Balaghah/Al-Mujtaba/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Surat 7


Kepada Mu'awiah

Saya telah menerima dari Anda suatu paket nasihat yang tak berhubungan dan surat yang berbumbu. Anda telah menulisnya karena kesesatan Anda dan mengirimkannya karena tidak adanya kebijaksanaan. Inilah surat dari seorang lelaki yang tiada cahaya yang akan menunjukkan kepadanyajalan, dan tak ada pula pemimpin untuk memandunya pada jalan yang benar. Nafsu mendorongnya, dan ia menyambutnya. Kesesatan membimbing dia, dan ia mengikutinya. Akibatnya, ia mulai berbicara kosong dan menjadi tersesat dengan sembrono.


Bagian dari Surat yang Sama

Karena, baiat adalah sekali untuk semua. (Baiat) itu tidak terbuka untuk dipertimbangkan kembali dan tak ada pula ruang untuk proses pemilihan baru. Orang yang tinggal di luarnya dianggap mengecam Islam, sementara orang yang berbicara putar balik atasnya adalah munafik. •

(Nahjul-Balaghah/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Surat 6


Kepada Mu'âwiah (ibn Abi Sufyân)

Sesungguhnya orang-orang yang membaiat kepada Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman telah membaiat kepada saya atas dasar yang sama di mana mereka membaiat kepada mereka. [1] (Atas dasar ini) orang yang hadir tidak mempunyai pilihan (untuk mempertimbangkan), dan orang yang tak hadir tidak berhak untuk menolak; dan suatu musyawarah dibataskan pada Muhajirin dan Anshar. Apabila mereka menyetujui seorang individu dan mengambilnya sebagai pemimpin (khalifah), hal itu dianggap bermakna keridhaan Allah. Apabila seseorang menjauh dengan jalan keberatan atau menuntut perubahan, mereka akan mengembalikannya kepada posisi dari mana ia menjauh. Apabila ia menolak, mereka akan memeranginya karena mengikuti jalan yang lain dari jalan kaum mukmin, dan Allah menempatkannya kembali (ke asal) dari mana ia melarikan diri. Demi hidupku, hai Mu'awiah, apabila engkau melihat dengan akalmu tanpa nafsu, maka engkau akan mendapatkan saya orang yang paling tak berdosa dari semua berkaitan dengan darah 'Utsman, dan tentulah engkau akan melihat bahwa saya dalam keadaan terkucil darinya, kecuali apabila engkau menyembunyikan apa yang sangat terbuka bagimu. Maka engkau boleh melakukan keberangan (pada saya) sesuka hatimu. Wasalam. •


Referensi:

[1] Ketika penduduk Madinah secara serempak membaiat kepada Amirul Mukminin, Mu'awiah menolaknya karena ia melihat bahaya yang mengancam kekuasaannya sendiri; dan untuk menandingi kekhalifahan Amirul Mukminin ia membuat dalih bahwa baiat itu tidak diberikan secara bulat dan oleh karena itu, harus ada pemilihan umum. Padahal sejak awalnya proses pemilihan khalifah dimulai adalah akibat dari situasi sesaat. Tak ada pemilihan umum sehingga hal itu tak dapat dikatakan hasil pemilihan rakyat. Namun hal itu dipaksakan kepada rakyat dan dianggap sebagai keputusan mereka. Sejak waktu itu telah menjadi prinsip bahwa orang yang dipilih oleh para pemuka Madinah dianggap mewakili seluruh dunia Islam dan tak seorang pun boleh mempertanyakannya, apakah ia hadir pada saat pemilihan atau tidak. Bagaimanapun, setelah mapannya prinsip itu, Mu'awiah tak berhak mengusulkan pemilihan ulang atau menolak baiat. Pada praktiknya ia sendiri telah mengakui para khalifah sebelumnya yang telah ditetapkan oleh orang-orang penting Madinah. Itulah sebabnya, maka ketika merasa bahwa pemilihan ini tak sah dan menolak pembaiatan itu, Amirul Mukminin menunjukkan kepadanya cara pemilihan yang telah diakui itu dan menuntaskan argumen dengan dia. Metode itu yang dikenal sebagai berargumentasi dengan lawan atas dasar premis-premis lawan yang salah sehingga menghabisi argumennya. Amirul Mukminin sama sekali tak pemah menyatakan bahwa musyawarah dengan para sesepuh ataupun pemilihan rakyat umum adalah tolok ukur bagi absahnya kekhalifahan. Bila demikian, maka sehubungan dengan kekhalifahan sebelumnya yang dianggap berdasarkan kesepakatan suara Muhajirin dan Anshar, ia akan sudah memandang kesepakatan sebagai wewenang yang baik dan memandangnya sebagai absah; tetapi penolakannya atas baiat sejak awal mula (pemilihan khalifah pertama), yang tak tersangkal oleh siapa pun, merupakan bukti bahwa ia tidak memandang cara yang dibuat-buat itu sebagai tolok ukur absahnya kekhalifahan. Itulah sebabnya maka ia selalu terus menekankan kasusnya sendiri untuk jabatan khalifah yang telah dikukuhkan atas dasar hadis Nabi. Namun, menyatakan demikian kepada Mu'awiah berarti membuka pintu tanyajawab. Oleh karena itu maka ia berusaha meyakinkannya dengan premis-premis dan kepercayaan Mu'awiah sendiri sehingga tak ada ruang untuk penafsiran atau untuk membingungkan hal itu; sesungguhnya tujuan Mu'awiah adalah untuk menunda hal itu sampai wewenangnya beroleh dukungan.

(Nahjul-Balaghah/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Surat 5


Kepada al-Asy'ats ibn Qais (al-Kindi), Gubernur Azerbajan

Sesungguhnya, pengangkatan Anda [1] bukanlah suatu suapan (makanan) bagi Anda, melainkan suatu amanat di seputar leher Anda, dan Anda telah ditugasi untuk melindungi (rakyat) atas nama atasan Anda. Anda tak boleh lalim kepada yang diperintah, tidak pula untuk menanggung risiko bagi diri Anda sendiri kecuali atas dasar-dasar yang kuat. Anda memegang dana yang mempakan milik AUah yang bagi-Nya Kekuasaan dan Kerajaan, dan Anda memegang kewajiban atasnya sampai Anda menyerahkannya kepada saya. Mudah-mudahan saya tidak akan merupakan salah seorang dari para pemimpin yang buruk bagi Anda. Wasalam. •


Referensi:

[1] Ketika Amirul Mukminin telah bebas dari Perang Jamal, ia menulis surat kepada Asy'ats ibn Qais al-Kindî yang telah menjadi Gubernur Azerbaijan sejak masa 'Utsman, untuk mengirimkan hasil pemasukan uang dan pajak dari propinsinya. Tetapi karena 'Asy'ats takut akan jabatan dan kedudukannya di masa depan, ia berniat menelan seluruh dana yang ada sebagaimana para pejabat 'Utsman lainnya. Oleh karena itu, sesampainya surat ini ia mengirim utusan memanggil rekan-rekan utamanya, dan setelah menyebutkan surat ini kepada mereka, ia berkata, "Saya khawatir uang ini akan diambil dari saya; oleh karena itu saya bermaksud bergabung dengan Mu'awiah." Atasnya, orang-orang itu berkata bahwa adalah memalukan apabila ia meninggalkan sanak keluarga lalu berlindung kepada Mu'awiah. Atas nasihat orang-orang ini ia menangguhkan gagasannya untuk melarikan diri, tetapi tak setuju dengan gagasan mereka untuk berpisah dengan uangnya. Ketika mendengar informasi ini, Amirul Mukminin mengutus Hujr ibn 'Adi al-Kindî untuk membawanya ke Kûfah. Hujr berhasil membawanya ke Kûfah. Ketika tiba, diketahui bahwa petinya berisi empat lakh Dirham, yang darinya Aniirul Mukminin meninggalkan 30.000 Dirham untuk Asy'ats dan menyimpan sisanya di baitul mal.

(Nahjul-Balaghah/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Commet Facebook Umum ABNS

 
Copyright © 2014 AHLUL BAIT NABI SAW Powered By AHLUL BAIT NABI SAW.